Penelitian selama 3 Tahun, Terinspirasi Malapraktik Dokter

Sholicul Huda, Dosen Udinus yang Temukan Metode Deteksi Kredit Fiktif Bank

82
Sholicul Huda (ABDUL MUGHIS/JAWA POS RADAR SEMARANG)
Sholicul Huda (ABDUL MUGHIS/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Kasus memanipulasi data perbankan oleh oknum pegawai bank maupun nasabah nakal yang mengajukan kredit fiktif kerap terjadi. Di dunia perbankan, kasus tersebut disebut fraud. Dosen Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) Semarang, Sholicul Huda, menemukan metode pendeteksiannya. Seperti apa?

ABDUL MUGHIS

KEJAHATAN bisa terjadi di mana saja. Tak terkecuali di dunia perbankan. Salah satunya adalah fenomena fraud. Publik lebih akrab dengan sebutan pembobolan bank. Seringkali ini menjadi bagian ’kriminalitas elite’ yang rumit dipahami bagi masyarakat secara umum.

Dosen Udinus, Sholicul Huda, berupaya memecahkan permasalahan tersebut melalui sudut pandang Information Technology (IT). Ia melakukan penelitian disertasi tentang seluk-beluk pembobolan bank selama kurang lebih tiga tahun, sebelum akhirnya meraih gelar doktor (S3) di Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya, belum lama ini.

Huda –sapaan akrabnya-mengatakan, selama ini bank menjadi tempat menyimpan tabungan uang tepercaya dan dinilai aman bagi kebanyakan orang. Tetapi tidak sedikit nasabah yang tiba-tiba kehilangan saldo tabungan. Ada pula nasabah nakal maupun oknum karyawan bank yang ”mengakali” bank dengan cara kredit fiktif untuk mencairkan uang miliaran rupiah. Kasus tersebut di dunia perbankan disebut fraud.

”Fraud sendiri didefinisikan sebagai sebuah aktivitas penyimpangan atau pembiaran yang sengaja dilakukan untuk mengelabui, menipu, atau memanipulasi bank, nasabah atau pihak lain. Terjadi di lingkungan bank menggunakan sarana bank. Sehingga mengakibatkan bank, nasabah atau pihak lain menderita kerugian. Sedangkan pelaku fraud memperoleh keuntungan keuangan baik secara langsung maupun tidak langsung,” bebernya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Huda berusaha mengupas tuntas secara ilmiah. Ia mengambil sampel sebanyak 4 kasus terkait pembobolan bank di Indonesia.

”Fraud rata-rata terjadi dengan menggunakan model kredit fiktif. Keempat kasus fraud tersebut terjadi karena ada proses pelanggaran Standar Operasional Prosedur (SOP),” kata Huda.

Tidak ada pelaku kejahatan yang tidak meninggalkan jejak. Demikian idiom menyebutnya. Begitu pun fraud ini meninggalkan jejak history event logs atau catatan proses.

”Saya melakukan analisis terhadap event logs. Sebagian besar aplikasi di bank sudah punya event logs. Namun mereka hanya menggunakan event logs tersebut ketika terjadi kasus saja. Nah melalui metode Hurito yang saya temukan, event logs tersebut dapat digunakan untuk mendeteksi dan mencegah fraud,” ungkapnya.

Dikatakan, rata-rata bank mempunyai sumber daya manusia yang cerdas. Tapi, cenderung tidak mengetahui manfaat lebih menggunakan event logs tersebut ketika metode anti fraud yang sudah ada tidak dapat mendeteksi fraud yang melanggar SOP.

’Selama tiga tahun terakhir, fraud sering terjadi dalam dunia perbankan. Baik bank pemerintah maupun bank swasta. Fraud akibat proses yang melanggar SOP. Jumlahnya relatif besar. Biasanya, fraud tersebut berupa kredit fiktif. Umumnya fraud teridentifikasi setelah pencairan kredit,” bebernya.

Huda mencontohkan, kredit fiktif itu misalnya ada pengajuan kredit baru. Tetapi yang tertera sebagai pemohon kredit hanya ’dipinjam’ namanya saja. Misalnya lagi, kasus agunan tidak memenuhi syarat dengan nilai kredit pinjaman. Pemohon bisa saja mengajukan agunan berupa sertifikat tanah senilai Rp 13 miliar. Setelah dimasukkan bank, kemudian pemohon tersebut bisa mencairkan uang Rp 20 miliar. Setelah itu kredit sengaja dimacetkan dengan alasan bisnis milik pemohon pailit.

”Ada juga kredit fiktif itu berupa kredit yang agunan dan tempat usahanya fiktif. Yang mengerikan itu kalau identitasnya fiktif dan agunannya juga fiktif,” ujar dia.

Pelaku fraud ada dua, yakni bisa dari unsur pegawai bank dan nasabah yang mengajukan kredit. Nyaris semua jabatan pegawai bank yang berkaitan dengan data perbankan bisa menjadi pelaku. Misalnya, kepala seksi, analis kredit, dan kepala cabang. Bisa murni individu, bisa juga adanya kongkalikong antara nasabah dengan oknum pegawai bank.

”Makanya sekarang ada aturan baru, maksimal 3 tahun setiap pegawai bank harus pindah bagian supaya kongsi gagal terbentuk. Biasanya karena diiming-imingi fee dan sudah kenal baik, prosesnya nggak dijalankan sesuai dengan SOP. Akibatnya, kredit fiktif tersebut lolos. Kredit fiktif itu korbannya adalah bank itu sendiri,” terangnya.

Sedangkan fraud yang merugikan nasabah biasanya terjadi di aplikasi tabungan dan dibobol melalui SMS banking. ”Rata-rata SMS banking bisa bobol, karena karyawan yang bertugas mengaktifkan fitur transfer menyalahi SOP. SOP-nya untuk mengaktifkan transfer, pemilik rekening harus datang sendiri tidak boleh diwakilkan. Tetapi yang terjadi dengan surat kuasa diperbolehkan. Ini menyalahi SOP yang berakibat rekening nasabah bobol,” beber ayah dua anak yang tinggal di Jalan Dliko Indah III/170 Salatiga ini.

Pembobolan melalui kredit fiktif, jika diusut, bank selaku korban hanya bisa melakukan proses hukum. Karyawan yang terbukti melakukan pidana dengan tindakan fraud bisa dipolisikan hingga diproses hukum di pengadilan. ”Karyawan bank (pelaku) dikeluarkan dari pekerjaannya dan masuk penjara. Tetapi uang kerugian milik bank (biasanya bernilai miliaran rupiah) rata-rata tidak bisa kembali,” beber dosen mata kuliah Keamanan Sistem Komputer, Jaringan Komputer dan Software Engineering Udinus ini.

Metode Hurito dirancang khusus oleh Sholicul Huda agar mampu mengatasi persoalan tersebut. Terutama agar bank tidak merugi akibat dibobol oleh pemain perbankan. Hurito sendiri diambil dari singkatan nama peneliti dan promotor disertasi S3-nya, yakni Huda, Riyanarto dan Tohari. ”Metode ini akan menganalisis event logs pengajuan kredit,” katanya.

Menurutnya, Hurito efektif untuk mengidentifikasi fraud pada proses pengajuan kredit. Sehingga fraud dapat dicegah. Metode deteksi fraud ini ditentukan berdasarkan proses bisnis yang berjalan. ”Fraud ini ditentukan berdasarkan proses yang melanggar SOP,” terangnya.

Dikatakan, setiap aplikasi kredit terdapat catatan tentang proses pengajuan kredit. Catatan proses tersebut meliputi proses pengajuan kredit sampai proses pencairan atau penolakan kredit. ”Catatan tersebut disimpan dalam event logs. Metode Hurito ini akan menganalisis proses bisnis pengajuan kredit dibandingkan dengan SOP. Pelanggaran SOP yang terjadi disebut sebagai indikator fraud,” katanya.

Kelebihan metode ini, lanjut dia, dapat mengidentifikasi apakah terjadi pelanggaran SOP. Kemudian dapat menentukan apakah pelanggaran SOP tersebut dilakukan secara sengaja atau tidak. Untuk mengimplementasikan metode ini, sebetulnya tidak sulit. ”Pihak bank hanya perlu melengkapi event logs aplikasi kredit yang sudah ada. Dalam event logs tersebut minimal tersimpan nama proses, waktu menjalankan proses, dan petugas yang menjalankan,” bebernya.

Dari event logs tersebut, hendaknya tersimpan informasi tentang nama proses analisis agunan, waktu dimulai dan selesainya analisis agunan, serta petugas yang melakukan analisis agunan. Selain event logs, metode ini memerlukan SOP. SOP tersebut dapat dibuat menggunakan perangkat lunak gratis. Metode yang ditawarkan ini akan menganalisis proses pengajuan kredit dengan dibandingkan dengan SOP. ”Nanti akan diketahui ada tidaknya indikator fraud dalam sebuah pengajuan kredit,” katanya.

Tahap selanjutnya, kata dia, berdasarkan indikator fraud yang ditemukan, akan dihitung bobot pelanggarannya seperti apa. Analisis lebih lanjut terhadap bobot pelanggaran tersebut akan diketahui bobot fraud. ”Bobot fraud inilah yang akan menjadi dasar manajemen dalam menentukan ada atau tidaknya fraud dalam pengajuan kredit,” jelasnya.

Algoritma Hurito menggunakan beberapa metode, di antaranya metode Modified Digital Logic (MDL), decision vector, behavior model dan Multi Attribute Decision Makin (MADM). Yang menarik dari metode Hurito ini adalah kemampuan analisis pada proses bisnis yang berjalan. ”Seandainya metode ini diimplementasikan pada aplikasi kredit, maka fraud dapat dicegah secara dini. Sehingga kerugian yang ditimbulkan oleh kredit fiktif dapat dihindari,” katanya.

Huda mengaku, metode Hurito ini terinspirasi dari kasus malapraktik dalam dunia kedokteran. Dia mencoba mempelajari metode dari ide untuk mencegah malapraktik tersebut. ”Malapraktik itu berarti prosesnya melanggar SOP. Ini yang saya coba kembangkan untuk mencegah fraud yang terjadi karena ada proses melanggar SOP,” ujarnya.

Tentu saja ini menjadi pengalaman menarik bagi Huda. Implementasi sebuah teori Process Mining pada data yang ada, ternyata dapat memberikan sesuatu untuk kemaslahatan manusia. ”Sekecil apa pun yang kita temui dan diimplementasikan pasti ada keuntungannya,” cetus dia. (*/aro/ce1)

BAGIKAN