MENGENAL PROFESI: Bripka Ricca saat dihadirkan Komunitas ASA Edu Semarang untuk memberikan pendidikan kepada anak-anak Tambak Lorok. (DOKUMENTASI ASA EDU SEMARANG)
MENGENAL PROFESI: Bripka Ricca saat dihadirkan Komunitas ASA Edu Semarang untuk memberikan pendidikan kepada anak-anak Tambak Lorok. (DOKUMENTASI ASA EDU SEMARANG)

Sejumlah generasi muda berupaya memantik semangat anak-anak di kawasan pesisir Tambak Lorok, Semarang Utara dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Mereka tergabung dalam Komunitas ASA Edu Semarang. Seperti apa?

NURUL PRATIDINA

RUMAH Baca Seroja riuh dengan suara anak-anak. Mereka antusias mengacungkan jari, saut-menyaut menjawab saat Bripka Ricca menunjukkan kartu bergambar rambu-rambu lalu lintas. Pun saat Polwan cantik itu mengajak mereka bernyanyi dengan menggerakkan tangan dan badan.

Ya, ini adalah salah satu kegiatan yang diinisiasi Komunitas ASA Edu untuk anak-anak di kawasan Tambak Lorok, Semarang Utara, beberapa waktu lalu. Bertepatan dengan peringatan Hari Pahlawan, anak-anak ini dikenalkan oleh berbagai profesi, Polisi Wanita (Polwan) salah satunya.

”Harapannya anak-anak ini lebih mengenal ragam profesi, tak hanya nelayan. Sehingga ke depannya cita-cita mereka bisa beragam, memilih, dan berupaya untuk menggapainya,” ujar salah seorang pengurus Komunitas ASA Edu, Oktavia Winarti kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Komunitas ASA Edu sendiri berdiri sejak dua tahun lalu. Berawal dari segelintir anak muda yang peduli dengan upaya peningkatan pendidikan anak. Kawasan Tambak Lorok diambil sebagai tempat pertama mereka dalam project ini.

Ragam kegiatan digelar. Minggu pagi menjadi agenda rutin dengan tema yang berganti setiap minggunya. Mulai dari menghias botol bekas untuk dijadikan pot, tanam pohon, mewarnai gambar yang terdiri atas beraneka profesi, dan lainnya.

Selain Minggu, komunitas ini juga kerap menggandeng atau digandeng oleh komunitas-komunitas lain dengan visi dan misi yang sejalan. Sejumlah relawan dengan berbagai keahliannya pun ikut menularkan kebisaan mereka. Di antaranya, menari, baca puisi hingga bergembira dalam kegiatan pengenalan dolanan anak.

”Tidak hanya fokus di pendidikan, tapi juga pada pengembangan karakter. Dengan menggelar acara dan anak-anak sebagai pengisi acara, seperti baca puisi, menari, harapannya mereka berani tampil dan memupuk rasa percaya diri,” katanya.

Sedangkan untuk anggota komunitas yang memiliki jargon ”ASA Edu Project, Pesisir Hebat” ini, siapa saja boleh bergabung. Saat ini, sebagian besar anggotanya mahasiswa dari berbagai universitas di Kota Semarang, dan juga pegawai dari sejumlah instansi. ”Kami terbuka bagi rekan-rekan yang ingin bergabung, tidak ada syarat khusus,” ujarnya.

Toh, lanjut Okta, dengan bergabung dalam komunitas sosial ini tak hanya bermanfaat bagi anak-anak di kawasan tersebut, tapi juga memberi manfaat lebih bagi para relawan. Mulai dari mempraktikkan keahlian hingga melatih kepekaan.

”Kan ada yang bilang ilmu yang berguna adalah ilmu yang dibagikan ke orang lain. Itu juga yang saya rasakan dengan bergabung di komunitas ini. Makin banyak teman dan lain-lain,” ujar mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Undip ini.

Ia menambahkan, ragam kegiatan komunitas juga dapat dipantau melalui sosial media Instagram @komuitas_ASAedu. Selain itu, melalui komunitas yang menyajikan ragam kegiatan tersebut, diharapkan dapat memantik anak-anak untuk bercita-cita lebih tinggi dan berupaya lebih keras dalam menggapainya. (*/aro/ce1)