Gantung Raket, Jadi Wasit

1150
Novi Kustanti (DOKUMEN PRIBADI)
Novi Kustanti (DOKUMEN PRIBADI)

BULU TANGKIS sudah menjadi bagian dari Novi Kustanti. Meski sudah gantung raket, dia tetap enggan meninggalkan dunia bulu tangkis. Dara kelahiran Wonosobo, 1 Februari 1996 ini cukup puas menjadi wasit dan pelatih PB Gatra Semarang.

Novi mengaku sudah kenyang mengikuti kompetisi bergengsi. Klimaksnya, ketika dia sukses menyabet gelar juara II beregu putri dalam Kompetisi Antarmahasiswa se-Asia Tenggara yang digelar di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) 2015 silam.

”Sudah puas main badminton. Sekarang cari pengalaman menjadi wasit. Main buat cari keringat masih sih,” ucap mahasiswi semester 7 Fakultas Kepelatihan Olahraga Universitas Negeri Semarang (UNNES) ini.

Novi mengaku sudah memegang raket sejak masih duduk di bangku SD. Awalnya, dia hanya main-main saja. Ikut-ikutan teman-teman di dekat rumahnya. Suatu saat, dia dipaksa ikut Pekan Olahraga Antardaerah (Popda). Lantaran tak pernah latihan serius, aksi lapangannya langsung jadi bulan-bulanan lawan.

”Sejak itu, langsung termotivasi latihan serius. Minta orang tua untuk didaftarkan klub. Akhirnya gabung di Bina Satria Tangkas, Wonosobo,” beber sulung dari dua bersaudara pasangan Basirun dan Nurjanah Tahendung ini.

Setelah berlatih serius, Novi langsung piawai mengayun raket. Dia pun memilih bermain nomor tunggal. Ketika SMP, dia kembali menguji hasil latihannya di salah satu kompetisi bulu tangkis di Wonosobo. Saking semangatnya, dia justru cedera. Engkel kaki kirinya terkillir gara-gara mengambil shuttlecock yang di-dropshot lawan. Karena itu pertandingan partai final, Novi enggan menyerah. ”Akhirnya ya dipaksa. Alhamdulillah akhirnya menang,” kenangnya. (amh/aro/ce1)