Sekolah Dasar Jaraknya 7 Km, ke Pasar 17 Km

Mengunjungi Candi Promasan, Dusun Terpencil di Kaki Gunung Ungaran (2-Habis)

321
TENANG: Suasana Dusun Candi Promasan, Limbangan, Kendal yang tenang. (FIRAS DALIL/JAWA POS)
TENANG: Suasana Dusun Candi Promasan, Limbangan, Kendal yang tenang. (FIRAS DALIL/JAWA POS)

Dusun Candi Promasan, Desa Ngesrepbalong, Kecamatan Limbangan, Kendal, menyimpan potensi wisata yang luar biasa. Sayangnya, dusun ini lolos dari perhatian Pemkab Kendal.

FIRAS DALIL

DUSUN Candi Promasan dikelilingi oleh perkebunan teh yang sangat indah dengan latar belakang Gunung Ungaran yang berdiri kokoh dan megah. Ada dua cara untuk mencapai dusun ini. Pertama, dengan melakukan trekking selama sekitar 2 jam dari basecamp Mawar yang terletak di atas objek wisata Umbul Sidomukti, Bandungan. Tak perlu takut nyasar, sebab jalur ini sangat jelas dan terdapat petunjuk di setiap percabangan jalan.

Kedua, via Nglimut, Desa Gonoharjo, Kecamatan Limbangan, Kabupaten Kendal. Jalur ini menyuguhkan pemandangan perkebunan teh yang terhampar luas sejauh mata memandang. Perjalanan bisa ditempuh selama 2 jam dengan menggunakan kendaraan bermotor. Sebaiknya berhati-hati karena jalan yang dilewati penuh batu, berkelok-kelok, dan terjal.

Ketua RT Dusun Candi Promasan, Koribun, mengatakan, dusunnya sering didatangi mahasiswa maupun lembaga sosial untuk menyalurkan bantuan kepada masyarakat. Yang paling besar adalah sumbangan berupa pembangkit listrik mikro hidro yang kini dimanfaatkan warga untuk memenuhi kebutuhan listrik sehari-hari.

Selain itu, dusun ini ramai para pendaki gunung setiap sabtu dan minggu. Tak hanya itu, beberapa kali komunitas yang peduli pendidikan memberikan pelatihan kepada anak-anak setempat. Di antaranya, relawan dari Komunitas 1.000 Guru Semarang dan Pendaki Gunung Indonesia (PGI) Korwil Semarang. ”Mereka mengajari anak-anak sini pelajaran sekolah dan keterampilan, misalnya membuat celengan dan cara menggosok gigi yang benar,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Di dusun ini juga terdapat sebuah rumah panggung yang di depannya berdiri sebuah tiang bendera lengkap dengan selembar bendera merah putih berukuran raksasa yang selalu berkibar ditiup angin. Di seberang rumah panggung terhampar tanah lapang yang biasa digunakan untuk camping. Sejauh mata memandang, perkebunan teh selalu terlihat mengelilingi rumah panggung itu. Papan informasi yang sudah jadi ditempel di rumah panggung, berisi informasi mengenai cara pemakaian dan keterangan tentang pihak yang menjadi penanggung jawab rumah panggung. Rumah panggung ini juga disewakan untuk umum. ”Di dalam rumah ini terdapat sebuah rak buku. Juga beberapa meja yang biasa digunakan oleh anak-anak sini untuk belajar,” katanya.

Koribun menyebutkan, rata-rata penghasilan utama warganya berasal dari upah sebagai buruh perkebunan teh. Mereka bekerja mulai pagi hingga sore. Sedangkan pekerjaan sambilan warga, di antaranya mencari kayu bakar di hutan untuk dijual ke pasar, beternak sapi, serta membuka warung bagi para pendaki yang bermalam di dusun terpencil ini.

”Di sini setiap minggu sering dipakai tempat menginap para pendaki. Tanah lapang di pinggir dusun sering dipakai untuk camping, mulai Sabtu sampai Minggu selalu ramai, tergantung dari cuacanya. Kalau cuacanya bagus, yang mendaki banyak,” kata Koribun kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Melayani para pencinta alam yang hendak mendaki Gunung Ungaran menjadi rezeki tambahan bagi para buruh pemetik teh yang tinggal di dusun ini. Warga sering menyewakan rumahnya untuk tempat menginap. Selain itu, para pendaki juga memesan makanan dari para penduduk.

”Para pendaki bisa semalam sampai dua malam di dusun ini. Mereka kita kenakan retribusi Rp 3.000 untuk kas RT. Kalau mau bawa tenda ya silakan, kalau mau sewa rumah atau nginap di rumah warga ya bisa. Mereka tinggal bayar sama yang punya rumah,” bebernya.

Para pendaki umumnya naik dari basecamp Mawar, serta ada yang dari Medini. Mereka bisanya titip barang di dusun ini. ”Ada juga yang bikin acara seperti pendakian masal di sini, tapi ya seadanya,” katanya sambil menenteng sebilah sabit yang akan dipakai berkebun.

Menurut Koribun, yang tinggal di sejumlah dusun di bawah, seperti Gunungsari, Medini, Gempol, Gedongan dan Separe, tinggal di Candi Promasan lebih enak dan damai, meski semuanya serba seadanya. ”Katanya di sini lebih nyaman dan tenteram,” ucapnya sambil tersenyum kecil.

Diakui Suwito, sesepuh dusun tersebut, karena kondisinya terpencil, warga kesulitan saat mengakses lembaga pendidikan. Karena anak sekolah harus turun ke bawah hingga puluhan kilo meter. ”Anak-anak kalau sekolah harus turun ke bawah. Yang SD harus ke Dusun Gunungsari sekitar 7 km. Kalau TK harus ke Medini. Kalau SMP ke Boja atau Limbangan yang jaraknya lebih dari 20 km melewati jalan terjal dan berliku-liku,” ujarnya.

Para siswa SD dan TK saat berangkat dan pulang sekolah biasanya ikut mobil milik perkebunan teh. ”Sedangkan yang SMP dan SMA, biasanya ikut saudaranya atau ikut mbahnya di Kendal atau Semarang,” jelas Suwito.

Sedangkan untuk belanja kebutuhan sehari-hari, warga harus ke pasar yang jaraknya sekitar 17 km. Biasanya warga ke pasar sebulan sekali. ”Sekali beli beras bisa untuk sebulan, Mas. Soalnya kalau ke pasar jauh, mahal biayanya. Warga kalau ke pasar naik motor,” ujar bapak dua anak ini. (*/aro/ce1)