Dangdut Akademi Cari Bibit Baru

275
HIDUPKAN INDUSTRI: Para juri seleksi peserta Akademi Dangdut di Semarang. (Abdul Mughis/Jawa Pos Radar Semarang)
HIDUPKAN INDUSTRI: Para juri seleksi peserta Akademi Dangdut di Semarang. (Abdul Mughis/Jawa Pos Radar Semarang)

SEMARANG – Industri musik dangdut sejauh ini dinilai mati suri. Banyaknya pembajakan dan minimnya generasi untuk mendalami genre musik dangdut secara profesional membuat perkembangan dangdut mengalami stagnan.

Padahal dangdut selama ini menjadi musik rakyat yang dikenal dekat dengan masyarakat Indonesia. Seperti tidak mengenal kelas, mulai di gang-gang perkotaan hingga pelosok perkampungan, irama Melayu yang merupakan produk akulturasi kebudayaan India, Arab dan Indonesia ini mudah diterima.

Kisaran era 1970-an hingga 2000-an, dikenal menjadi zaman keemasan bagi musik dangdut di Indonesia. Di masa itu melahirkan tokoh-tokoh legendaris atas karya-karya populernya, sebut saja A Rofiq, Reynold Panggabean, Rhoma Irama, Camelia Malik, Elvy Sikesih, Herlina Efendi, Mansyur S, Ida laila, Muchsin Alatas dan lain-lain.

Kendati begitu, seiring perkembangan zaman, dangdut terutama di lini produksi karya kian menunjukkan penurunan kualitas secara umum. Di lini arus bawah, menjamur grup-grup musik dangdut lokal. Akan tetapi produktivitas untuk menghasilkan karya lagu baru sangat minim. Sebab mereka cenderung hanya menjadi player (pemain), bukan kreator (pencipta karya).

Sekretaris Jenderal Forum Komunitas Musik Melayu (FKMM) Jawa Tengah, Hafid Sungkar menyambut positif adanya Akademi Dangdut Indosiar. Ia berharap dunia dangdut akan mampu menggali potensi generasi di setiap kota di seluruh Indonesia. Sehingga industri dangdut kembali mengulang kejayaannya. Di Jawa Tengah sendiri, akan dilakukan audisi Akademi Dangdut Indosiar di Auditorium Unnes Semarang, pada Minggu (4/12) pukul 08.00. ”Ini Akademi Dangdut ke-4. Audisi dilakukan di 6 kota besar di Indonesia, yakni Medan, Surabaya, Makasar, Palembang, Semarang, dan Jakarta,” kata dia.

Melalui acara seleksi Akademi Dangdut, mampu menggali dan melahirkan generasi baru di kancah musik dangdut. Bagaimana pun musik dangdut menjadi bagian produk budaya bangsa Indonesia yang harus dilestarikan. ”Audisi nanti diperkirakan diikuti ribuan peserta dari seluruh Indonesia. Pendaftaran dilakukan secara online. Tetapi audisi dilakukan terpusat di enam kota tersebut. Melihat tahun lalu, di Semarang diikuti kurang lebih 4.000 peserta dari berbagai daerah,” katanya.

Koordinator Juri Akademi Dangdut Ali Khan mengatakan audisi kali ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Sebab melibatkan sebanyak 15 juri pilihan yang memiliki kompetensi dalam bidangnya. Di antaranya melibatkan dari unsur penyanyi dangdut, pakar pengamat musik dangdut, sutradara, industri rekaman, dan jurnalis senior. ”Kami sangat menjunjung tinggi sportivitas, jujur dan adil. Jadi, proses audisi ini tidak asal-asalan,” kata penyanyi dangdut asal Semarang, berdarah Pakistan ini. (amu/zal/ce1)