CERIA : Anak-anak PAUD Pelangi di Dusun Dusun Gejayan, Desa Banyusidi, Kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang, menikmati permainan yang tersedia di dalam kelas. Mereka kini bisa belajar dan bermain dengan nyaman di dalam gedung PAUD yang dibangun oleh Yayasan Astra Honda Motor. (LISTYORINI RETNO WIBOWO/RADAR SEMARANG)
CERIA : Anak-anak PAUD Pelangi di Dusun Dusun Gejayan, Desa Banyusidi, Kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang, menikmati permainan yang tersedia di dalam kelas. Mereka kini bisa belajar dan bermain dengan nyaman di dalam gedung PAUD yang dibangun oleh Yayasan Astra Honda Motor. (LISTYORINI RETNO WIBOWO/RADAR SEMARANG)

PT Astra International Tbk melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) yang terangkum dalam Semangat Astra Terpadu Untuk Indonesia (SATU Indonesia), berhasil menggairahkan semangat anak-anak PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) di lereng Gunung Merbabu—tepatnya di Dusun Gejayan, Desa Banyusidi, Kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang—untuk belajar dan bermain dengan nyaman. Melalui Yayasan Astra Honda Motor, PT Astra International Tbk membangun gedung PAUD Pelangi di Dusun Gejayan, Banyusidi, yang representatif untuk belajar dan bermain anak-anak PAUD.

PEPOHONAN pinus yang mengelilingi Dusun Gejayan, Desa Banyusidi, masih basah oleh embun. Gerimis tak henti-hentinya  memercik tanah, saat Prapti, bocah 5 tahun, siswi PAUD Pelangi, merengek pada ibunya, Dami, 25, untuk segera mengantarnya ke sekolah.

Pagi itu, jarum jam baru menunjuk pukul 06.00. Matahari masih saja terhalang oleh awan yang muram, karena tangisan hujan. Toh, si kecil Prapti sudah siap-siap berangkat sekolah. Baluran bedak bayi menambah ayu bocah imut itu. Rambut Prapti berkepang karet. Tubuhnya berbalut kaus biru muda, bertuliskan PAUD Pelangi. “Ayo Ibu….berangkat,” rengek Prapti, sembari menarik-narik tangan bundanya untuk segera beranjak dari rumah ke PAUD yang jaraknya hanya 500 meter.

Dengan sabar, Dami mencoba memberi penjelasan kepada buah hatinya, bahwa jam mulai belajar dan bermain masih lama. Masih 1,5 jam lagi. Karena proses pembelajaran baru dimulai pukul 07.30. “Sik yo, Nduk, sabar, esih sepi (bentar ya, Nduk, sabar masih sepi.” Nduk, dalam bahasa Jawa, merupakan panggilan untuk anak perempuan.

Kepada Radar Semarang yang menemuinya di minggu keempat November akhir pekan lalu, Dami mengatakan, sejak gedung sekolahnya baru, Prapti jadi semakin rajin dan bersemangat masuk sekolah.  Tidak hanya Prapti, kata Dami, anak-anak PAUD Pelangi lainnya juga sama.

“Ibu, itu Fira sudah berangkat. Ayo Ibu…..,” rengek Prapti lagi. Kali ini, Dami tidak bisa lagi menahan keinginan buah hatinya untuk segera beranjak ke sekolah. Tangan kanan Dami segera menggandeng lengan mungil Prapti. Sementara, tangan kirinya, memegangi payung, memastikan bocah imut itu tak tersentuh oleh  tetesan hujan. “Hati-hati, Nduk, jalannya licin.” Begitu Dami mewanti-wanti Prapti yang antusias memanggil-manggil temannya, Fira, untuk menunggunya di ujung kampung.

Ya, Prapti adalah satu di antara 35 siswa-siswi PAUD Pelangi. Baru pada 10 November 2016 lalu, gedung PAUD berukuran 8 x 6 meter per segi itu, diserahkan kepada warga setempat.  Berdiri di atas tanah bengkok desa, bangunan bercat kombinasi merah, kuning, hijau, biru muda, dan krem kecoklatan tersebut, merupakan bantuan dari Yayasan Astra Honda Motor.

Lokasi PAUD Pelangi bersebelahan dengan SD Gejayan. Bangunan PAUD diperuntukkan bagi siswa-siswi PAUD besar dan kecil. Untuk memisahkan dua kelas, guru-guru PAUD hanya membatasinya dengan lemari buku dan tempat mainan anak-anak. Kegiatan belajar dan bermain seminggu 4 kali. Senin, Selasa, Jumat dan Sabtu. Mulai jam 07.30-09.30 WIB.

Pagi itu, anak-anak PAUD Pelangi duduk berderet beralaskan tikar. Mereka bersiap menyantap bekal yang dibawanya dari rumah. “Sebelum makan, ayo berdoa dulu. Setelah selesai, boleh bermain.” Begitu Tarminah, 24, guru PAUD Pelangi, memberikan instruksi kepada murid-muridnya.  Susi, 5 tahun, tampak lahap menyantap mi goreng bekalnya. Tak butuh waktu lama, mi gorengnya ludes ia santap. Sesaat kemudian, bocah berambut sebahu itu, mengambil mainan lego. Lantas, ia pun asyik bermain lego bersama kawan-kawannya. Tawa ceria mewarnai suasana kelas pagi itu.

Tarminah menuturkan, sebelum menempati bangunan baru, tawa bocah asuhannya, tak seceria seperti saat ini, ketika mereka masih menempati bangunan lama. Yakni, di sebuah rumah tua milik Slamet, warga setempat. Utamanya, jika hujan tiba-tiba menderas, membasahi bangunan rumah yang dipakai oleh anak-anak PAUD untuk belajar dan bermain. Dua tahun menempati rumah Slamet, Tarminah dan  dua guru lainnya; Lestari dan Khoirunnisa, tidak berhenti diserang waswas. Pun,  para orang tua siswa.

Jika turun hujan, guru-guru waswas eternit atap bangunan akan ambrol. Maklum, semua kayunya sudah keropos. Tiap hujan, air selalu menetes deras ke dalam ruangan. Bocor di sana-sini. Yang terjadi, bukannya fokus mengajar, guru-guru itu justru disibukkan dengan “proses evakuasi” anak-anak. “Karena bocor, airnya bikin basah tikar yang dipakai duduk anak-anak,” kenang Tarminah. Maka, jalan satu-satunya, terpaksa anak-anak dipulangkan lebih awal. Beruntung, pada saat eternit ambrol, anak-anak PAUD tengah libur. “Coba kalau ada anak-anak, wah seperti apa kejadiannya, saya tidak bisa membayangkan,” cerita Tarminah diamini Lestari dengan wajah sendu.

Sebelum menempati rumah warga yang bocor, sambung Tarminah, anak-anak PAUD pernah menempati Padepokan Wargo Budoyo. Sebuah padepokan yang kesehariannya dipakai untuk aktivitas berkesenian warga.  Sayangnya, bangunan padepokan kurang representatif, karena tempatnya terbuka. Yang terjadi,  “Kalau ada pedagang datang, anak-anak bubar ingin jajan.”  Kalau sudah begitu, guru-guru hanya bisa pasrah menyaksikan anak asuhnya berhamburan ke luar, menghampiri pedagang. Tak mau kejadian itu terus terjadi berulang, guru dan orang tua siswa sepakat memindah lokasi belajar dan bermain anak-anak PAUD. Tujuannya, agar anak-anak  fokus belajar dan bermain.

Ke mana? Tempat paling memungkinkan adalah ruang kelas di SD Gejayan. Maka, dibantu kepala desa, kepala dusun, juga warga, Tarminah akhirnya melobi kepala SD Gejayan untuk memberinya tempat bagi anak-anak PAUD Pelangi belajar dan bermain di salah satu ruang kelas. Pihak SD menyetujui. Syaratnya, proses pembelajaran dan bermain anak-anak PAUD dilakukan usai jam sekolah. Artinya, baru bisa digunakan pada siang hari.  Yakni, pukul 13.00 hingga sore hari, 15.00. Yang terjadi, bukannya malah tambah semangat belajar dan bermain, anak-anak PAUD Pelangi  justru banyak yang ngantuk.

“Banyak anak yang ongap-angop di dalam kelas, merengek, rewel karena ngantuk, sehingga jadinya ada saja yang tidur di dalam kelas,” cetusnya. Perempuan berkerudung itu menambahkan, sejak  2011,  proses belajar dan bermain anak-anak PAUD Pelangi berpindah-pindah. “Alhamdulillah sekarang sudah punya tempat sendiri. Tempatnya bagus, berkat bantuan pihak Astra dan tentu saja Bunda PAUD Ibu Tanti.” Tarminah mengatakan, murid-murid PAUD Pelangi berasal dari tiga dusun: Nglarangan, Babadan, dan Gejayan. Dusun Gejayan sendiri hanya salah satu dari 22 dusun yang masuk wilayah Desa Banyusidi, Kecamatan Pakis.

Bagi anak-anak yang berasal dari luar Dusun Gejayan, mengikuti proses belajar dan bermain di PAUD Pelangi, butuh perjuangan tersendiri.  Setiap pagi, mereka harus melintasi jalan berkontur naik-turun, khas jalan di wilayah pegunungan. “Repotnya kalau hujan, jalannya licin, sehingga harus hati-hati. Maunya saya kalau hujan nggak usah masuk, tapi anak saya maunya tetap masuk. Jadinya ya harus hati-hati naik motor ke lokasi PAUD di Dusun Gejayan,” kata Warti, 25, orang tua Dava, 5, siswa PAUD yang berasal dari Dusun Babadan.

Lestari, guru PAUD Pelangi lainnya menambahkan, keberadaan gedung bantuan Yayasan Astra Honda Motor, sangat disyukuri warga. Kini, mereka tidak perlu berpindah-pindah lagi. Belajar menjadi lebih nyaman dan tenang. Guru juga semakin fokus pada proses pembelajaran. Tak perlu khawatir lagi pada ancaman bahaya.  “Makanya, anak-anak jadi semangat sekolah. Kadang guru belum datang, murid sudah datang duluan. Di sini juga lebih nyaman, halaman untuk bermain lebih luas,” ucap Lestari, penuh syukur.

Klaim guru-guru PAUD Pelangi tidak berlebihan. Buktinya, orang tua siswa yang notabene warga setempat, merasa ikut memiliki gedung itu. Mereka suka rela turut merawat. Ibu-ibu piket bergiliran membersihkan ruangan PAUD. Usai jam belajar,  para guru membereskan alat peraga edukatif (APE). Sedangkan orang tua yang piket, menyapu ruangan dan teras. Di dalam kelas, ada  sejumlah APE, meski jumlahnya tidak terlalu banyak. Di luar gedung, hanya ada satu wahana permainan: jungkat-jungkit.

Di tengah serba keterbatasan alat peraga, toh trio guru  Tarminah, Lestari, maupun Khoirunnisa, tak pantang mengeluh. Mereka mengaku ikhlas mengabdi menjadi pengajar di PAUD. Materi jelas bukan alasan ketiganya mengajar di PAUD Pelangi. Tidak sama sekali. “Kami hanya ingin anak-anak itu mendapatkan kesempatan belajar di usia emas mereka. Karena pada masa usia emas seperti sekarang, sangat berpengaruh terhadap perkembangan periode berikutnya hingga masa dewasa,” kata Lestari. Padahal, masa emas hanya datang sekali. “Kami ingin anak-anak kami kelak pendidikannya, berhasil melampaui pendidikan para orang tuanya. Moralnya bagus, beretika, dan jadi manusia yang bertakwa,” sambungnya.

Tarminah menimpali, “Kita tidak akan pernah tahu, mereka jadi apa kelak. Mungkin dari PAUD ini ada yang nantinya jadi dokter, insinyur, pengusaha, menteri, bahkan presiden.” Karenanya, meski mendapatkan honorarium dari iuran orang tua siswa PAUD yang nomimalnya sangat kecil, tiga pahlawan tanpa tanda jasa itu, rela mengabdi, membekali anak-anak PAUD itu untuk mengerti tentang sopan-santun, berakhlak mulia, dan mengenal pendidikan yang sebenarnya: lingkungan.

 

Warga Antusias Gotong-Royong Membangun PAUD

KERJA SAMA : Anak-anak PAUD Pelangi bermain bentuk-bentuk, di dalam ruangan PAUD yang gedungnya dibangun oleh Yayasan Astra Honda Motor. Pembangunan gedung PAUD sebagai salah satu program CSR PT Astra International TBK. (LISTYORINI RETNO WIBOWO/RADAR SEMARANG)
KERJA SAMA : Anak-anak PAUD Pelangi bermain bentuk-bentuk, di dalam ruangan PAUD yang gedungnya dibangun oleh Yayasan Astra Honda Motor. Pembangunan gedung PAUD sebagai salah satu program CSR PT Astra International TBK. (LISTYORINI RETNO WIBOWO/RADAR SEMARANG)

Jalan masuk ke Dusun Gejayan, Desa Banyusidi, Kecamatan Pakis, masih berbatu.  Karena berada di lereng gunung, mayoritas pekerjaan warganya adalah bertani. Maka, pupuk kandang, lazim teronggok di pinggir jalan dekat lahan pertanian. Baunya yang khas, menyeruak. Sebuah pemandangan yang lazim ditemui di desa-desa pegunungan.

Rata-rata pendidikan warga Dusun Gejayan hanya lulusan SMP dan SMA. Meski, ada beberapa yang tamatan perguruan tinggi. Jumlah warga di dusun ini, 500 jiwa. Hampir setiap tahun, dusun yang terletak sekitar 30 km dari Kota Mungkid, Ibu Kota Kabupaten Magelang itu, kedatangan mahasiswa kuliah kerja nyata.

Kepala Dusun (Kadus) Gejayan, Sulis Prasetyo, mengatakan, PAUD Pelangi merupakan PAUD teraktif dibandingkan PAUD lain di Desa Banyusidi. Ironisnya, meski aktif, PAUD Pelangi tidak punya gedung sendiri.  Maka, begitu mendapat kabar akan mendapat bantuan pembangunan gedung dari Yayasan Astra Honda Motor, warga antusias menyambutnya.

Kadus Sulis bercerita, ketika proses belajar dan bermain anak-anak PAUD masih di rumah tua milik warga, orang tua kerap berdebar akan keselamatan anak-anaknya. Terutama, jika hujan deras mengguyur wilayah Gejayan. “Takutnya kalau kambrukan (tertimpa eternit) dari atas, karena memang kayunya sudah pada keropos.” Maka, jika hujan turun, anak-anak segera dipulangkan. Sebaliknya, jika hujan turun sebelum waktu belajar dan bermain, maka anak-anak PAUD otomatis “meliburkan” diri sendiri.  “Kalau tetap masuk ya percuma, sebab tempatnya basah. Tikar untuk duduk anak-anak basah terendam atas. Rumah itu sudah lama bocor,” ucap Kadus Sulis.

Karena itu, ia mengaku bersyukur, kini anak-anak PAUD Pelangi sudah bisa belajar dengan nyaman. Termasuk, putri bungsunya,  Neifira Kurniasari, 5.  Kadus Sulis berharap, keberadaan gedung PAUD, akan meningkatkan kualitas pendidikan sumber daya manusia warganya.  Bapak dua  anak itu mengaku, PAUD sangat penting. Ia merasakan sendiri, perbedaan anaknya yang mengenyam PAUD dan yang tidak.“Anak saya yang bungsu, jauh lebih cerdas, berani, dan kritis, dibandingkan kakaknya yang tidak mengenyam PAUD,” tuturnya.

Keberadaan gedung PAUD Pelangi, juga berimbas pada semangat belajar anaknya. Neifira Kurniasari kini lebih rajin berangkat sekolah. “Ya, kami berterima kasih kepada PT Astra yang telah memberi bantuan dana bagi pembangunan PAUD di dusun kami, sehingga anak-anak di dusun kami, sekarang makin rajin bersekolah.”

Hal senada disampaikan oleh Kepala Desa Banyusidi, Yuwono. Semula, ia tak percaya desanya akan mendapat bantuan dari Astra. Sebab, selama ini, dalam pemikirannya, Astra identik dengan kendaraan bermotor. “Saya mendapat kabar dari Bunda PAUD Kabupaten Magelang, Ibu Tanti Zaenal Arifin, kami akan mendapat bantuan pembangunan gedung PAUD. Semula katanya dapat Rp 40 juta. Saya bilang siap,” tutur Yuwono saat ditemui di kantornya Jumat (25/11) lalu.

Ayah satu anak itu optimistis dengan semangat gotong-royong dan swadaya warganya. Sehingga dengan nilai seberapa pun, ia yakin gedung akan terwujud, karena warga siap membantu. Finalnya, justru menerima Rp 85 juta. Kades Yuwono mengatakan, peran Bunda PAUD dan Badan Pemberdayaan Masyarakat Perempuan dan KB, juga cukup besar dalam hal ini. Bahkan, gedung PAUD Pelangi saat ini menjadi gedung multifungsi. Selain untuk belajar dan bermain siswa PAUD, juga untuk pos pelayanan terpadu. “Yang membuat kami juga bangga, karena PAUD Pelangi, satu-satunya PAUD di Kabupaten Magelang, yang memiliki gedung sendiri. Ini tentu berkat Astra, juga berkat Ibu Bupati selaku Bunda PAUD.”

 

Astra Dukung Program Satu Desa, Satu PAUD

TIDAK LUPA BERDOA : Ibu guru PAUD Pelangi, Tarminah, memimpin doa selesai makan di dalam ruangan PAUD yang bangunannya baru. Pembangunan gedung PAUD dibiayai dari program CSR PT Astra International TBK melalui Yayasan Astra Honda Motor. (LISTYORINI RETNO WIBOWO/RADAR SEMARANG)
TIDAK LUPA BERDOA : Ibu guru PAUD Pelangi, Tarminah, memimpin doa selesai makan di dalam ruangan PAUD yang bangunannya baru. Pembangunan gedung PAUD dibiayai dari program CSR PT Astra International TBK melalui Yayasan Astra Honda Motor. (LISTYORINI RETNO WIBOWO/RADAR SEMARANG)

Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Magelang, Ny Tanti Zaenal Arifin mengapresiasi langkah Yayasan Astra Honda Motor yang telah memberikan bantuan dana untuk pembangunan gedung PAUD Pelangi di Dusun Gejayan, Desa Banyusidi. Istri Bupati Zaenal Arifin yang juga Bunda PAUD Kabupaten Magelang itu berharap, dengan bantuan gedung tersebut, anak-anak PAUD Pelangi bisa memperoleh kualitas pendidikan yang lebih baik.

“Mereka  bisa belajar dan bermain di tempat yang lebih nyaman,” kata Ny Tanti. “Sebagaimana kita tahu, PAUD merupakan proses pendidikan yang sangat penting, di mana pada usia ini, anak mengalami periode emas dalam  tumbuh kembangnya, sehingga kualitas pendidikan yang diterima, akan berpengaruh banyak pada kualitas anak nantinya,” sambungnya.

Selaku Bunda PAUD,  Ny. Tanti Zaenal Arifin berkomitmen untuk mewujudkan layanan PAUD berkualitas. Tujuannya, untuk mencetak generasi emas yang bertaqwa, cerdas, dan berdaya Saing. “Itu visi saya selaku Bunda PAUD,” ucapnya. Sedangkan misinya, memfasilitasi terwujudnya layanan PAUD Tangguh, Unggul, berBudaya (Tanggul Budaya) secara merata, bermutu, relevan, dan menjangkau semua sasaran.

Untuk mewujudkan hal itu, Ny Tanti meningkatkan kerja sama dan memperluas jaringan kemitraan dengan CSR di wilayah Kabupaten Magelang maupun di luar wilayah Kabupaten Magelang. “Salah satunya, dengan Yayasan Astra Motor Honda ini, yang mendukung program Satu Desa, Satu PAUD, untuk berkontribusi positif bagi pengembangan PAUD di Dusun Gejayan, Banyusidi. Alhamdulillah, pihak Astra berkenan memberikan bantuan dana untuk pembangunan gedung PAUD Pelangi.” Ny Tanti juga berharap, kerja sama tersebut dapat bermanfaat bagi masyarakat dan  bisa terus berlanjut.  “Kami berterima kasih kepada Yayasan Astra Honda Motor,” kata Ny Tanti yang hadir pada saat peresmian gedung PAUD Pelangi pada 10 November lalu.

Terpisah, Bunda PAUD Jawa Tengah, Ny Atiqoh Ganjar Pranowo, menambahkan, pihaknya mendukung terbentuknya program Satu Desa, Satu PAUD. Meski begitu, saran istri Gubernur Jateng tersebut, program yang dimaksud, wajib diikuti peningkatan kualitas. Khususnya, pendidikan karakter pada anak-anak.

Ny Atiqoh juga mengingatkan agar tidak ada missing link antara pendidikan di sekolah dan keluarga. Termasuk, dengan lingkungan sekelilingnya. “Berikan pola asuh ramah otak pada anak, hindarkan gap antara orang tua dengan anak, dan orang tua pun mesti mereformasi diri menghadapi perkembangan teknologi.” Ia berharap, lingkungan berperan aktif dalam menerapkan pola asuh ramah otak. “Anak-anak itu unik. Tidak bisa menggeneralisasi anak baik seperti apa, misalnya yang duduk manis. Tidak bisa karena ada anak yang kinestetik atau banyak bergerak, dan ada pula yang scientific, cenderung antheng. Pahami itu, perlakuannya beda,” tuturnya.

Kiprah Yayasan Astra Honda Motor dalam meningkatkan kualitas pendidikan di Jawa Tengah,  pernah diapresiasi oleh Gubernur Jateng Ganjar Pranowo pada 2015 silam di Magelang. Gubernur Ganjar memberikan penghargaan kepada Astra melalui  Deputy Head of Corporate Communication AHM, Ahmad Muhibbuddin, di sela-sela acara Ekspo Produk dan Job Fair SMK 2015 yang berlangsung di SMA Taruna Nusantara Magelang, pada Juni tahun lalu. Menurut Ganjar, untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Jawa Tengah, perlu sinergi yang terus menerus antara akademisi, pengusaha, dan goverment. “Astra telah membuktikan komitmennya melalui CSR yang menitikberatkan pada pendidikan, dan kami mengapresiasi hal itu,” kata Ganjar.

Apresiasi juga disampaikan oleh Direktur Pembinaan PAUD Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, Dr Ela Yuliawati. Ela menyampaikan, Astra merupakan salah satu  perusahaan swasta di Indonesia yang punya kesadaran tinggi terhadap pembinaan PAUD di Indonesia. “Pemerintah sangat mengapresiasi.” Saat menghadiri Gebyar PAUD tingkat Jateng di Banyumas, Ela mengatakan, pendidikan di tingkat PAUD sangat penting Sebab, menurut Ela, PAUD merupakan wahana bermain untuk mengembangkan kemampuan bahasa, kecakapan sosial, emosional, serta kemampuan kognitif.

 

Berkontribusi Meningkatkan  Kualitas Masyarakat Indonesia

REPRESENTATIF: Gedung PAUD Pelangi Dusun Gejayan Desa Banyusidi merupakan bantuan dari Yayasan Astra Honda Motor. (LISTYORINI RETNO WIBOWO/RADAR SEMARANG)
REPRESENTATIF: Gedung PAUD Pelangi Dusun Gejayan Desa Banyusidi merupakan bantuan dari Yayasan Astra Honda Motor. (LISTYORINI RETNO WIBOWO/RADAR SEMARANG)

Presiden Direktur PT Astra International Tbk Prijono Sugiarto saat mengunjungi Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo di Semarang baru-baru ini mengatakan,  untuk mendorong terciptanya generasi muda yang cerdas dan berkualitas, Grup Astra aktif melakukan kegiatan CSR pendidikan. “Bagi Astra, kegiatan bisnis tidak terlepas dari lingkungan dan masyarakat sekitar. Kami meyakini bahwa perusahaan tidak hanya menguntungkan, tetapi juga harus berkelanjutan,” kata Prijono Sugiarto.

Karena itu, kegiatan Corporate Social Responsibility (CSR) merupakan bagian dari langkah nyata Grup Astra untuk berperan aktif memberikan kontribusi meningkatkan kualitas masyarakat Indonesia melalui karsa, cipta dan karya terpadu untuk memberikan nilai tambah bagi kemajuan bangsa Indonesia.

Prijono berharap, setiap anak perusahaan di Grup Astra bertanggung jawab kepada masyarakat dan lingkungan sekitar. Sehingga dapat meminimalisasi segala risiko dan efek negatif terhadap keberlanjutan operasional dan bisnis perusahaan. Kegiatan CSR Grup Astra yang dilakukan sejak 1974 silam, sudah banyak dirasakan manfaatnya oleh  masyarakat. Prijono mengatakan, melalui Semangat Astra Terpadu Untuk Indonesia (SATU Indonesia), Astra ingin memberikan nilai tambah lewat karsa, cipta, dan karya. Astra juga menjalankan empat pilar utama. Yaitu: pendidikan, lingkungan, usaha kecil dan menengah, serta kesehatan.

Pemahaman dan pengertian inilah yang menjadi pendorong PT Astra International Tbk untuk lebih peduli dengan perkembangan anak di usia dini. Karenanya, melalui program CSR yang terangkum dalam SATU Indonesia, maka sejak 2010, Astra membuat pelatihan dan pembinaan untuk kader PAUD. Juga turut membangun dan merenovasi bangunan-bangunan PAUD di seluruh Indonesia.

Hadi Soetikno, seorang pemerhati pendidikan asal Magelang berpendapat, pilihan CSR sebuah perusahaan untuk menitikberatkan pada pendidikan usia dini, sangat tepat. Sebab, menoreh masa depan anak-anak, justru dimulai sejak PAUD. Dengan menyekolahkan anak di lembaga PAUD, kata Soetikno, berarti orang tua telah berinvestasi atau menanam modal bagi anak di masa depannya. “Di PAUD, anak akan belajar melalui bermain yang berguna dalam menumbuhkembangkan anak dari berbagai aspek. Seperti aspek nilai agama dan moral, fisik-motorik, kognitif, bahasa, sosial-emosional, dan seni.”

Karena itu, sambung Soetikno, investasi masa depan dalam  upaya pembangunan sumber daya manusia (SDM)  yang berkualitas, maka pengembangan anak-anak usia dini sangat diperlukan. Dari anak-anak yang seluruh potensinya dikembangan secara optimal, akan diperoleh SDM yang mampu membangun masa depan bangsa yang maju, mandiri, sejahtera, dan berkeadilan.

Soetikno mencontohkan, negara-negara maju sangat memperhatikan pendidikan anak-anak usia dini. Seperti Jepang, Korea Selatan, dan Singapura. “Di negara-negara itu, hampir semua anak-anak usia dini telah terlayani PAUD.” Di Malaysia, pelayanan PAUD bahkan telah mencapai angka 70 persen. “Saya kita tepat apa yang dilakukan Astra melalui CSR-nya berfokus pada pendidikan anak usia dini. Sebab, di usia emas mereka, anak-anak harus sejak dini dibentuk.”

Hal senada disampaikan oleh Retno Palupi, seorang psikolog lulusan Universitas Diponegoro Semarang. Menurut Retno,  rumah dan lingkungan sekitar adalah dua faktor penting yang sangat berpengaruh dalam proses pendidikan dan pembinaan anak. Artinya, lanjut Retno, ini sama dengan pemikiran program pembinaan dan pemberdaaan PAUD Grup Astra yang juga memberi penekanan pembinaan dan pelatihan peranan orang tua dan lingkungan. (lis retno wibowo/isk)