Kasus 22 Siswa SD Serang SD Pekunden, Pemkot Siap Berikan Pendampingan

567
MEDIASI: Wakil Wali Kota Semarang, Hevearita Gunaryanti Rahayu, berbincang dengan salah satu siswa SD Al Khotimah yang diduga melakukan aksi tawuran. (ADENNYAR WYCAKSONO/ JAWA POS RADAR SEMARANG)
MEDIASI: Wakil Wali Kota Semarang, Hevearita Gunaryanti Rahayu, berbincang dengan salah satu siswa SD Al Khotimah yang diduga melakukan aksi tawuran. (ADENNYAR WYCAKSONO/ JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG Kasus 22 siswa SD Gunung Brintik dan SD Al Khotimah yang menyerang SD Pekunden menjadi tamparan keras dunia pendidikan Kota Semarang. Apalagi saat melakukan penyerangan itu, para ”jagoan cilik” itu membawa senjata tajam parang dan ikat pinggang yang dilengkapi besi. Tak heran, jika kasus ini menjadi perhatian khusus Pemerintah Kota Semarang dan Dinas Pendidikan. Bahkan, kemarin  Wakil Wali Kota Semarang, Hevearita Gunaryanti Rahayu, mendatangi sekolah tempat para siswa itu menimba ilmu.

Mbak Ita –sapaan akrab Hevearita Gunaryanti Rahayu—mengatakan, pemkot akan memberikan pendampingan kepada siswa yang terlibat tawuran dengan mendatangkan psikolog.

”Nanti akan dipanggilkan psikolog, biar mereka yang meneliti dari segi psikologis siswa SD Al Khotimah dan SD Gunung Brintik,” katanya saat mendatangi SD Al Khotimah Jalan Randusari Spaen I No 248, Jumat (25/11) pagi kemarin.

Dia mengaku telah memanggil dan menemui siswa yang diduga hendak melakukan aksi tawuran tersebut, yakni BM dan AL. Namun keduanya mengaku mendatangi SD Pekunden tidak untuk berkelahi.

”Tadi sudah saya tanyai, katanya tidak melakukan aksi tawuran. Nanti akan ada pendampingan dari psikolog untuk mendalami dan mengeksplore karakter kedua siswa ini,” jelasnya.

Mbak Ita yang juga melakukan pertemuan singkat dengan pihak sekolah, Dinas Pendidikan dan kepolisian terus akan melakukan penyelidikan lebih lanjut. Ia meminta kepada pihak kepolisian untuk melihat kamera CCTV di sejumlah titik yang diduga dilewati para siswa saat mendatangi SD Pekunden.

”Nanti biar pak polisi melihat CCTV di Taman Pandanaran, toko oleh-oleh ataupun rumah makan yang dilewati para siswa untuk tindakan selanjutnya dengan memikirkan kondisinya, karena masih anak-anak,” tuturnya.

Dengan bantuan rekaman CCTV dan pendampingan psikolog, lanjut dia, akan ada titik terang mengenai penyebab kasus penyerangan SD Pekunden oleh puluhan siswa SD lain itu. Apalagi para siswa telah menyiapkan senjata tajam parang dan sabu dilengkapi besi yang telah diamankan oleh pihak kepolisian.

”Ini kan masih simpang siur. Ada beberapa versi cerita. Ada yang bilang mau ketemu temannya di SD Pekunden. Ada yang bilang mau mencari ikan ataupun ada juga siswa perempuan SD Pekunden yang dihadang oleh siswa yang tertangkap kemarin,” ungkapnya.

Terkait barang bukti berupa ikat pinggang yang sudah dimodifikasi dan gir yang diamankan, kedua siswa, yakni BM dan AL saat ditanya Ita mengakui jika alat tersebut milik mereka. Namun keduanya menyangkal alat tersebut dipersiapkan untuk tawuran, melainkan untuk mencari ikan di sungai.

”Katanya buat mukul ikan, sementara kalau parang yang ditemukan keduanya tidak mengaku membawa parang. Karena parang yang disita berasal dari teman lainnya yang tidak dikenal,” bebernya.

Pihaknya mengimbau kepada orang tua maupun pihak sekolah untuk melakukan pengawasan lebih ketat agar kasus serupa tidak terjadi. Ia juga meminta para orang tua untuk menjemput buah hatinya saat pulang sekolah. Orang tua juga harus mengetahui kegiatan anak dan permasalahan yang kerap membelit anak-anak agar terhindar dari kasus kekerasan ataupun kriminalitas.

”Kalau orang tuanya menjemput, anak-anak pasti tidak akan mampir-mampir. Kalau belum dijemput ya pihak sekolah harus menghubungi orang tua siswa untuk menjemput,” ucapnya.

Dalam kasus tersebut, menurut dia, memang harus dilihat dari background keluarga si anak, serta harus ada perhatian dari lingkungan sekitar, pemerintah, dan peran serta masyarakat untuk mencegah dan mengawasi anak-anak di sekitarnya.

”Pemkot berencana membuat rumah duta revolusi mental, nanti di dalamnya ada parenting, pendampingan, dan melayani kebutuhan psikolog ataupun kejiawaan anak,” katanya.

Ketua Yayasan Al Khotimah, Munawaroh, mengaku lebih percaya anak didiknya dari pada isu yang beredar. Terkait barang bukti berupa ikat pinggang yang telah dimodifikasi, memang sengaja dibawa untuk mencari ikan di Taman Pandanaran.

”Sabuknya buat gebuk ikan, bukan buat tawuran. Kalau masalah senjata tajam mereka tidak bawa,” tegasnya.

Pihak sekolah pun masih menunggu penyelidikan kebenaran kasus tersebut, terlebih melibatkan anak-anak dan membawa nama institusi pendidikan. Untuk saat ini, kedua siswa masih berangkat sekolah dan tidak akan diberikan sanksi.

”Ini masih menunggu kebenarannya, tidak akan diberi sanksi, wong ya masih di bawah umur. Kalau memang terbukti bersalah nanti dilakukan musyawarah,” ujarnya singkat.

Sekretaris Dinas Pendidikan Kota Semarang, Soedjono, mengatakan, jika pihak dinas meminta kepada seluruh sekolah untuk tidak langsung melepas anak didiknya setelah jam pelajaran usai.

”Harusnya jangan dilepas, diawasi sampai siswanya pulang ataupun dijemput,” katanya.

Terkait kasus dugaan percobaan tawuran siswa SD, pihak Dinas Pendidikan mengaku tidak bisa menarik kesimpulan, karena memang menjadi ranah kepolisian. Namun setelah diadakan pembicaraan, tidak ada permasalahan apa-apa terkiat dugaan kasus tersebut.

”Sudah ditanya tadi, katanya nggak ada masalah apa-apa. Dinas pun masih menunggu penyelidikan lebih lanjut,” ujarnya. (den/aro/ce1)

Silakan beri komentar.