PERLU IDE SEGAR: Penggiat wisata Kota Semarang dan wisatawan tampak melihat-lihat salah satu wahana di Taman Lele Tugu, Semarang. (ADENNYAR WYCAKSONO/ JAWA POS RADAR SEMARANG)


PERLU IDE SEGAR: Penggiat wisata Kota Semarang dan wisatawan tampak melihat-lihat salah satu wahana di Taman Lele Tugu, Semarang. (ADENNYAR WYCAKSONO/ JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Objek wisata milik Pemerintah Kota Semarang, Taman Lele, saat ini mulai tidak diminati oleh wisatawan. Padahal letak objek wisata ini cukup strategis, yakni berada di jalur pantura Semarang-Kendal yang menjadi akses utama kendaraan yang hendak menuju ataupun keluar Semarang.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Semarang, Masdiana Safitri, mengakui Taman Lele kini sudah tidak diminati wisatawan lokal maupun dari luar kota. Tempat wisata ini pun rencananya akan direvitalisasi.

”Tahun depan rencananya akan diperbaiki, dibangun, dan dirombak total. Saat ini, kami sedang menyusun Detail Engineering Design (DED) pengembangan Taman Lele,” katanya usai kegiatan Kopi Morning di Taman Lele, kemarin.



Revitalisasi Taman Lele ini, lanjut dia, diperkirakan akan menelan biaya Rp 40 miliar untuk pembangunan infastruktur, penambahan wahana, dan perawatan untuk mengembalikan pamor objek wisata yang selalu ramai pengunjung pada era 1990-an ini.

”Tahun depan semoga sudah ada progres, dana juga cair untuk mengembangkan kembali Taman Lele sebagai objek wisata andalan Kota Semarang,” ungkapnya.

Kepala UPTD Objek Wisata Taman Lele, Khusno Adi, mengakui, jika objek wisata yang dikelolanya memang sepi pengunjung, baik hari libur biasa ataupun libur lebaran. Tahun ini saja, pendapatan asli daerah (PAD) yang dihasilkan Taman Lele hanya sekitar Rp 500 juta hingga November ini.

”Tahun ini ada penurunan dibandingkan tahun lalu, padahal tahun lalu pendapatan sekitar Rp 600 juta dalam setahun,” paparnya.

Minimnya pendapatan, lanjut dia, dikarenakan beberapa faktor. Di antaranya, adanya perbaikan jalan, kurangnya fasilitas sarana dan prasarana, serta tidak ada penambahan objek wisata baru di Taman Lele.

”Selain juga bosan karena sedikitnya wahana, pertengahan tahun ini ada perbaikan jalan pantura, tepat di depan Taman Lele yang membuat akses jalan masuk sangat susah,” katanya.

Koordinator Penggiat Wisata Kota Semarang, Benk Mintosih, menjelaskan, jika cerita rakyat dan mitos di Taman Lele sebenarnya bisa dijual. Selain itu, memang harus ada pemikiran dan pengembangan dari penggiat wisata agar Taman Lele kembali dikenal.

”Sampai saat ini ada cerita mitos tentang lele hanya hanya ada duri dan kepala tanpa daging itu tentu dapat menjadi strategi bisnis yang masih layak dikembangkan. Tentunya nanti setelah sarana prasarana di sini diperbaiki, dan ada pemikiran segar dari penggiat wisata,” ujarnya. (den/aro/ce1)