ANTIK: Daronjin saat merakit sepeda Pennyfarthing untuk meramaikan Kota Lama. (kanan) Daronjin sedang menyusuri jalanan Kota Lama dengan sepeda antiknya yang dilengkapi ban besar bagian depan dan ban kecil di bagian belakang. (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
ANTIK: Daronjin saat merakit sepeda Pennyfarthing untuk meramaikan Kota Lama. (kanan) Daronjin sedang menyusuri jalanan Kota Lama dengan sepeda antiknya yang dilengkapi ban besar bagian depan dan ban kecil di bagian belakang. (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Berawal dari kecintaannya pada sepeda onthel, Daronjin dan Arifin membentuk Komunitas Transport Jadul. Keduanya mengumpulkan orang-orang dengan kendaraan antiknya dan berniat menciptakan museum jalanan. Seperti apa?

FIRAS DALIL

KOMUNITAS Onthel di Kota Semarang, sebenarnya sudah ada dan sangat banyak jumlahnya. Namun Daronjin, pria kelahiran Semarang 46 tahun silam ini, masih merasa ada yang kurang. Kecintaannya pada sepeda onthel dan kendaraan-kendaraan kuno, mendorong tekadnya untuk menghiasi dan meramaikan Kota Lama dengan kendaraan-kendaraan jadul. Dalam benaknya, tidak hanya memamerkan sepeda onthel, tapi beragam kendaraan antik seperti motor sampai mobil yang pernah ada di zaman lampau.

Karena itulah, dirinya bersama rekan sevisi yang kerap ngumpul bareng, sepakat mendirikan komunitas sejak 3 tahun lalu. Yakni pada 14 Februari 2013 didirikan Komunitas Transpor Jadul. Tekadnya menjadikan Kota Lama sebagai ikon sejarah di Kota Semarang. ”Nantinya tidak cuma sepeda onthel, tapi ada motor klasik sampai dengan mobil klasik,” harap Daronjin.

Sejauh ini, diakuinya, jumlah anggota masih sedikit hanya belasan orang. Namun, dari belasan orang itu, setiap orangnya bisa memiliki sampai 10 properti. Sehingga setiap kumpul bareng, propertinya sangat banyak. ”Meski begitu, kami sangat terbuka dan menyambut dengan senang hati, terhadap orang yang ingin bergabung dengan komunitas kami,” kata Arifin, 35, rekan Daronjin yang turut menggagas komunitas tersebut.

Tidak sekadar memamerkan properti, kata Daronjin, pihaknya juga menyewakan properti jadul tersebut untuk umum. Apalagi, sampai saat ini cukup banyak peminat yang tertarik meminjam properti sepeda antik untuk sekadar foto sampai dengan pameran.

”Properti-properti jadul ini, kami sewakan untuk masyarakat juga. Setiap bulan pasti ada yang meminjam untuk pameran, beragam event, sampai buat foto pre-wedding juga. Kadang mereka sewa beberapa hari bahkan sampai bulanan. Tarifnya Rp 100 ribu per unit/hari,” kata Daronjin kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Sesuai dengan tujuan awalnya untuk meramaikan Kota Lama, Daronjin dan Arifin justru tidak mengadakan acara kumpul bareng bersama komunitasnya di  jalanan yang sudah ramai di Kota Lama. Justru mereka membawa properti klasik tersebut ke jalan-jalan yang masih sangat sepi di Kota Lama dan mengadakan pameran kecil-kecilan di sana.