13 Titik Rawan, 38 Bencana di Semarang

260
RAWAN: Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi meninjau lokasi longsor di Kelurahan Lempongsari RT 2 RW 3 Kecamatan Gajahmungkur, kemarin. (Rizal/Jawa Pos Radar Semarang)
RAWAN: Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi meninjau lokasi longsor di Kelurahan Lempongsari RT 2 RW 3 Kecamatan Gajahmungkur, kemarin. (Rizal/Jawa Pos Radar Semarang)

SEMARANG – Bencana tanah longsor menghantui masyarakat yang menghuni perbukitan padat penduduk di Kota Semarang. Selama musim ekstrem di 2016 ini, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Semarang mencatat sedikitnya terjadi 38 bencana tanah longsor di Kota Semarang.

Tentu hal ini patut diwaspadai semua pihak. Baik masyarakat maupun pemerintah setempat. Terutama mereka yang menghuni lahan padat penduduk dengan kontur tanah perbukitan yang rawan longsor.

”Hingga November 2016 ini, telah terjadi 38 bencana longsor di Kota Semarang. Paling parah yakni di Bukitsari Semarang beberapa waktu lalu hingga menelan korban jiwa dua orang anak,” kata Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Semarang, Iwan Budi Setiawan, Rabu (16/11) kemarin.

Kejadian longsor masih saja terjadi, terutama selama musim hujan dengan cuaca cukup ekstrem. Beberapa titik rawan longsor di Kota Semarang, khususnya daerah selatan garis tengah. Mulai dari barat yakni Wonosari, Tambakaji, Gisikdrono, Kembangarum, Simongan, Bongsari, Petompon, Randusari, Lempongsari, Tinjomoyo, Tembalang, Jomblang, dan Candi. ”Karena itu, kami mengimbau agar masyarakat terus meningkatkan kewaspadaan,” katanya.

Pihaknya mengaku telah melakukan langkah preventif untuk penanggulangan bencana, khususnya longsor. Sejumlah lokasi tersebut berpotensi terjadi bencana tanah longsor. Apalagi tingkat curah hujan tinggi. ”Sebagai antisipasi, ada beberapa areal yang rawan longsor kami beri terpal. Ini sebagai penanganan sementara biar aman,” katanya.

Tidak hanya itu, pihaknya juga mengimbau agar warga yang tinggal di wilayah titik rawan longsor agar dievakuasi ke tempat aman. ”Ini juga sebagai antisipasi adanya longsor susulan. Kami juga berusaha memberikan bantuan makanan, minuman serta kebutuhan selimut,” ujar Iwan.