DIVONIS MAKSIMAL: Muhammad Riaz alias Mr Khan dibawa ke luar ruang sidang usai mendengarkan vonis di Pengadilan Negeri (PN) Semarang, kemarin. (SIGIT ANDRIANTO/ JAWA POS RADAR SEMARANG)
DIVONIS MAKSIMAL: Muhammad Riaz alias Mr Khan dibawa ke luar ruang sidang usai mendengarkan vonis di Pengadilan Negeri (PN) Semarang, kemarin. (SIGIT ANDRIANTO/ JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Setelah menjalani serangkaian proses persidangan, majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Semarang akhirnya menjatuhkan vonis hukuman mati kepada Muhammad Riaz alias Mr Khan. Satu dari delapan terdakwa penyelundup 97 kg sabu-sabu dari Tiongkok ini terbukti bersalah melakukan tindak pidana, yakni permufakatan jahat secara tanpa hak atau melawan hukum mengimpor narkotika.

”Dalam dakwaan subsider pengadilan menjatuhkan kepada terdakwa dengan pidana mati,” ujar Lasito, ketua majelis hakim saat meminta penerjemah memberitahukan vonis hukuman kepada terdakwa.

Vonis yang dijatuhkan oleh majelis hakim ini sesuai dengan tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU).

Lasito menyatakan, terdakwa terbukti bersalah melanggar pasal 113 ayat 2 UU No 35 Tahun 2009 tentang narkotika.

Dalam pertimbangannya, hakim menilai Muhammad Riaz alias Mr Khan terbukti mengatur jalannya impor sabu-sabu yang disembunyikan di dalam genset dari Tiongkok.  Dia menambahkan, terhadap putusan ini, terdakwa memiliki hak menerima atau langsung menyatakan banding atau berpikir-pikir selama satu minggu. 

”Untuk itu, supaya berkonsultasi kepada penasihat hukum terdakwa,” lanjut Lasito.

Menanggapi putusan tersebut, Yuda Bima Putra, penasihat hukum Mr Khan, menyatakan, akan melakukan banding. ”Unsur pasal 113 kami anggap belum memenuhi, itu akan menjadi bahan kita untuk banding,” jelas Yuda.

Pihaknya menganggap, bahwa bukti IT (teknologi informasi) belum menyatakan secara sah dan meyakinkan bahwa terdakwa melakukan transaksi.

”Genset dikirim dari Tiongkok, tapi bukti komunikasi tidak ada,” jelasnya sembari menambahkan bahwa putusan hakim dinilai belum memenuhi rasa keadilan.

”Dan satu hal lagi. Putusan hukuman mati untuk negara ini jauh dari rasa keadilan mengingat HAM juga,” imbuh Yuda yang menilai kesalahan dalam hukum masih sering terjadi. (sga/aro/ce1)