Melongok Potensi Rajungan Kualitas Ekspor Desa Betahwalang, Bonang, Demak

Nelayan Berharap Dibangun Miniplant dan Pabrik Pengalengan

1231
POTENSI LAUT: Nelayan Desa Betahwalang, Kecamatan Bonang menunjukkan rajungan kualitas ekspor. (kanan) Bobo, alat tangkap rajungan yang ramah lingkungan. (FOTO-FOTO: WAHIB PRIBADI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
POTENSI LAUT: Nelayan Desa Betahwalang, Kecamatan Bonang menunjukkan rajungan kualitas ekspor. (kanan) Bobo, alat tangkap rajungan yang ramah lingkungan. (FOTO-FOTO: WAHIB PRIBADI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Potensi hasil laut di wilayah Desa Betahwalang, Kecamatan Bonang cukup melimpah. Selain hasil tangkapan ikan pada umumnya, nelayan setempat dalam beberapa tahun ini juga terus mengembangkan potensi tangkapan lain yang lebih menjanjikan dari sisi ekonomi. Yakni, rajungan atau portunus pelagicus kualitas ekspor. Seperti apa?

WAHIB PRIBADI, Demak

DESA Betahwalang, Kecamatan Bonang, Kabupaten Demak memiliki banyak potensi perikanan dan kelautan. Bahkan, Duta Besar Amerika Serikat (AS) untuk Indonesia, HE Robert O Blake Jr, pada awal 2015 pernah mengunjungi kampung nelayan  ini karena tertarik dengan rajungan yang dagingnya banyak diekspor ke negara Paman Sam tersebut. Ia juga memberikan apresiasi pada nelayan yang tergabung dalam komunitas Nelayan Putra Manunggal karena mampu membangun masjid  senilai Rp 5 miliar yang sebagian besar (80 persen) dananya hasil jimpitan nelayan rajungan.

Ketua Nelayan Putra Manunggal, Slamet Untung, menuturkan, jumlah penduduk Desa Betahwalang tercatat sebanyak 5.652 jiwa. Dari jumlah itu, 994 orang di antaranya bekerja sebagai nelayan. Terdiri atas 635 juragan (pemilik perahu) dan 359 buruh. Adapun jumlah kapal atau perahu yang dimiliki nelayan setempat mencapai 635 unit dengan rata-rata ukuran 6,5 meter.

”Dulu, sebelum ada rajungan, nelayan banyak menghasilkan tangkapan udang, ikan gerok atau gerabah, serta ikan bawal atau lomang. Biasanya ditangkap pakai jaring kecil,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Namun sejak ada tangkapan rajungan, nelayan membuat alat tangkap ramah lingkungan berupa bobo. Bentuknya kotak-kotak dan bulat terbuat dari kawat di sisinya dan dilengkapi dengan anyaman tali untuk bahan jaring. Tercatat, ada 358 nelayan yang pakai alat bobo, jaring ikan 54, nilon gilnet 30, jar rajun 114, dan arad atau pukat 83.

Total ada 639 macam alat tangkap. Khusus untuk rajungan, sekali melaut, satu kapal nelayan mampu membawa sebanyak 400 hingga 500 kotak bobo. Nelayan ada yang berangkat pagi pulang sore. Adapula yang berangkat siang dan baru pulang pukul 03.00 dini hari, serta ada yang berangkat pagi lalu ditinggal pulang.

Dari perbedaan sistem operasional melaut itu, nelayan yang banyak menghasilkan rajungan adalah mereka yang berangkat siang dan baru pulang dini hari. Sebab, rajungan banyak bertebaran keluar dari sarangnya saat siang hingga malam. Ketika melaut, alat bobo ditebar atau ditanam nelayan di dasar laut dengan jarak 10 meter antara bobo satu dengan bobo lainnya. Dengan alat bobo ini, rajungan kualitas ekspor dapat ditangkap. Sedangkan, rajungan yang kecil dilepaskan. Ini dilakukan selain untuk menjaga ekosistem laut, juga demi kelangsungan hasil tangkap nelayan. Rajungan kecil dan bertelur dilepas supaya dapat berkembang biak lagi.

Berdasarkan pengalaman nelayan, sudah 5 tahun terakhir hasil tangkapan rajungan terus mengalir (stabil) hingga sekarang karena habitatnya cocok untuk rajungan. Memang, kendala utama nelayan yang mengenakan alat bobo adalah nelayan yang memakai arad atau jaring pukat. Alat pukat tidak ramah lingkungan sehingga rajungan kecil yang terperangkap ikut mati. Karena itu, perlu ada penegakan hukum bagi nelayan yang menggunakan arad. Solusinya, nelayan pakai arad tidak boleh menangkap rajungan dengan jarak 10 kilometer dari bibir pantai.  Upaya sosialisasi larangan pakai alat tangkap arad juga terus dilakukan.

Sebaliknya, nelayan yang pakai bobo perlu didukung. Dengan alat bobo, selain tidak merusak lingkungan, alat ini tetap dapat menghasilkan rajungan secara maksimal.

Tangkapan rajungan bisa mencapai 2 ton per hari. Itu termasuk yang terbesar se-Jateng, bahkan di Indonesia. Rajungan itu kemudian dibeli 13 pedagang atau pengepul setempat lalu dikirim ke pabrik pengupasan daging rajungan di Rembang dan di wilayah Bonang sendiri. Setidaknya ada 482 pelanggan dengan total 3.220 kilogram per hari. Adapun, harga rata-rata rajungan di tingkat nelayan Rp 36 ribu per kilogram dengan isi rata-rata 10 ekor.

”Kita sih berharap pemerintah dapat membangunkan miniplant dan pabrik pengalengan sendiri. Dengan demikian, kesejahteraan nelayan dapat meningkat,” harapnya.
Jika rajungan dikirim ke Rembang, keuntungan nelayan dan pedagang lokal tidak maksimal karena tergerus oleh biaya transportasi yang cukup tinggi. Biasanya, rajungan dikirim dengan cara ojek dengan biaya transportasi Rp 2 ribu per kilogram.