Arifin sendiri sudah mulai menjual barang antik sejak tahun 1997. Namun sebelumnya, Arifin hanya hobi mengoleksi barang-barang antik. Dari hobinya tersebut, telag mempertemukannya dengan banyak penyuka barang-barang antik. Ia pun bersemangat memperbanyak koleksinya dan saling tukar-menukar dengan sesama pencinta barang antik. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk berdagang beragam jenis barang antik.

”Setiap pembeli memiliki selera. Ada yang datang mencari furnitur, ada yang mencari reklame, ada yang mencari perabot rumah tangga, bermacam-macam,” tandasnya.

Namun dirinya membedakannya menjadi 3 macam, berdasarkan lamanya barang kuno, yakni barang antik dan barang jadul. Barang kuno sendiri merupakan barang-barang peninggalan zaman kerajaan lampau dan barang itu memiliki sejarah panjang dan harganya sangat mahal. Barang ini biasanya berupa pusaka atau senjata yang harganya bisa sampai ratusan juta rupiah. Sedangkan barang-barang antik pada zaman Belanda dulu dan barang jadul, ya barang-barang di era 60-an.

Ia juga menuturkan bahwa barang-barang antik yang ada di kiosnya, harganya berkisar dari ratusan ribu hingga ratusan juta. Tentunya harga tersebut berdasarkan lamanya eksistensi benda tersebut dan sejarah yang ada di dalamnya. Dalam setiap transaksi, biasanya memakan waktu lama, lantaran sang pembeli akan terlebih dahulu bertanya tentang latar belakang dari benda antik tersebut. Ia juga hanya menjual barang-barang antik ini pada mereka yang benar-benar dapat merawatnya.

”Barang-barang ini bernilai seni dan sudah tidak ada lagi. Jadi selain harganya cukup tinggi, benda ini juga harus betul-betul dirawat agar bentuk aslinya tetap terjaga,” katanya.

Benda antik termahal yang dijual Arifin adalah sebilah tombak yang dulunya merupakan senjata prajurit Majapahit. Ia banderol tombak ini seharga Rp 250 juta.

Arifin sudah sering kedatangan pelanggan yang merupakan artis atau public figure yang wajahnya sudah tidak asing. Ia pernah melayani grup band The Changcuters yang pernah berkunjung ke tokonya untuk membeli reklame antik. Beberapa pemain sinetron seperti Khrisna Mukti juga pernah berkunjung ke tokonya.

Walaupun begitu, Arifin tetap berharap agar pemerintah menyediakan tempat khusus untuk pedagang barang antik khususnya di Kota Lama. Hal ini akan mempermudah para pedangang dan pemburu barang antik di Semarang atau luar Semarang untuk berkumpul di satu tempat. Tentunya, hal itu akan menambah daya tarik Kota Lama sebagai salah satu aset sejarah Kota Semarang.

”Harapan kami, memiliki pasar barang antik seperti di Solo dan Jogja. Bahkan, kota yang jauh dari kesan kuno seperti Jakarta saja, punya kawasan barang antik di Jalan Surabaya. Kalau di sini masih terpisah, ada yang belum punya kios, jualan pakai tenda di dekat Taman Srigunting. Karena di sini sudah penuh,” kata Arifin. (*/ida/ce1)