TUNGGU PEMBELI: Salah satu anggota Komunitas Koka-Kola di depan lapak dagangannya di depan Polsek Semarang Utara. (FIRAS DALIL/JAWA POS RADAR SEMARANG)
TUNGGU PEMBELI: Salah satu anggota Komunitas Koka-Kola di depan lapak dagangannya di depan Polsek Semarang Utara. (FIRAS DALIL/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Sekumpulan pedagang barang antik yang bergabung dalam Komunitas Koka-Kola menyulap Kota Lama dari kesan angker dan kumuh, menjadi tempat yang rapi, ramai, untuk menjajakan ragam barang antik dari masa ke masa. Seperti apa?

FIRAS DALIL

BERAWAL dari kesukaan akan barang antik dan berdagang barang antik di areal Kota Lama, sekelompok pedagang barang antik mendirikan komunitas bernama Koka-Kola. Artinya, Komunitas Klitikan Antik Kota Lama. Komunitas ini menjadi wadah untuk para pedagang spesialis barang antik dan para pemilik hobi mengoleksi barang antik.

Komunitas Koka-Kola yang diprakasai sejak 2013 lalu, saat ini memiliki 55 anggota pedagang barang antik yang masih aktif di Semarang. Itu belum termasuk yang non pedagang. Kini mereka menyulap tempat sewaan di depan Polsek Semarang Utara menjadi pasar barang antik.

”Yang pasti tujuan kami di sini untuk menghidupkan Kota Lama. Dulu Kota Lama kesannya kumuh, gelap dan angker. Karena di sini, dulu tempatnya pemulung dan tempat buangan mobil kecelakaan. Tapi sekarang, kesannya jadi ramai bahkan sampai malam,” tuturnya.

Dulu, pihaknya pernah jualan cuma sebulan sekali pada minggu kedua di hari Jumat, Sabtu dan Minggu. Tapi sekarang, dengan swadaya dari anggota Koka-Kola, akhirnya bisa menyewa tempat dan bisa jualan tiap hari.

”Harapan kami selanjutnya, pemerintah mau membuat pasar khusus barang antik untuk wilayah Semarang. Seperti Solo yang punya Triwindu, kemudian Jogja, Surabaya, bahkan Jakarta,” kata Ahmad Arifin salah seorang pengurus Komunitas Koka-Kola yang juga pedagang barang antik di Kota Lama.

Arifin menjelaskan bahwa Koka-Kola turut meramaikan salah satu tempat wisata sejarah di Semarang ini dengan kegiatan rutin. Yakni, menggelar acara musik setiap malam minggunya. Selain itu, ada agenda Pasar Klitikan Bulanan dengan mengundang berbagai pedagang antik dari daerah lain untuk datang dan berdagang di sini.

”Setiap minggu kami membuat live music, keroncongan, dan akustikan. Setiap bulan di minggu kedua, kami membuat Pasar Klitikan dengan mengundang pedagang-pedagang dari luar Semarang, sekalian reuni dan silaturahmi, karena kami juga selalu datang tiap ada event di luar kota,” tambah pria 35 tahun ini.