KIR Habis Ngemel Lebih Mahal

301

PARA pengemudi truk memiliki banyak pengalaman dalam menyiasati muatan yang melebihi tonase yang ditentukan. Sebab, over tonase itu memang disengaja dari pihak perusahaan, dengan alasan agar bisnis tidak merugi. Tak heran, jika segala cara dilakukan para sopir truk agar lolos di jembatan timbang. Salah satunya dengan menyuap petugas.

Baca : Seribu Cara Truk Over Tonase Lolos Jembatan Timbang, Kelabuhi Petugas hingga Pilih Membayar Denda

”Waktu saya masih jadi sopir truk muatan barang, paling ngemel (menyuap) Rp 30 ribu, kadang Rp 40 ribu. Kalau masuk jembatan timbang kan kelihatan kalau muatan berlebih, nanti disemprit suruh minggir, lalu saya ngasih uang,” ungkap sopir trailer, Riyanto, saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang, Minggu (6/11) kemarin.

Menurut sopir truk yang tinggal di Semarang Timur ini, uang untuk menyuap petugas jembatan timbang itu sudah dianggarkan perusahaannya, di luar anggaran membeli BBM dan makan. ”Kalau sekarang ini kan terkenalnya pungli (pungutan liar). Ya, memang pengalaman pribadi saya sendiri dulu sering ngasih petugasnya, supaya bisa tetap jalan,” kata pria yang menjadi sopir sejak 2002 ini.

Ia mencontohkan, uang saku mengantar barang Semarang-Surabaya PP kisaran Rp 1 juta. Uang tersebut terpotong beli BBM, makan, ongkos kuli, termasuk membayar pungli. ”Kalau setiap masuk timbangan ya tadi, ngasih Rp 30 ribu, kadang Rp 40 ribu. Kalau di Jawa Tengah dulu kan ada dua timbangan yang beroperasi, yakni di Demak sama Sarang (Rembang). Tapi, sekarang tinggal di Sarang. Lalu masuk Jawa Timur ada sekitar 4 jembatan timbang,” katanya.

Riyanto mengakui, memberikan pungli tersebut sebelumnya terjadi tawar-menawar dengan petugas. Nominal awal yang dipatok petugas sekitar Rp 100 ribu. ”Nyang-nyangan dulu. Tapi kalau ketahuan KIR kendaraan habis, paling mahal. Biasanya ngemel Rp 100 ribu sampai Rp 150 ribu,” jelasnya.

Diakuinya, pungli ini pun terjadi tidak hanya dilakukan oleh petugas di jembatan timbang. Menurutnya, pungli ini juga dilakukan oleh petugas lainya di jalan raya.

”Mulai Brebes sampai Cirebon kan banyak PJR. Kayak ngasih pajak jalan Rp 5 ribu sampai Rp 10 ribu. Kalau sopir sudah biasa. Kadang nanya surat, kadang nanya surat muatan, bongkar di mana. Paling cuma formalitas saja, kalau sudah dikasih uang ya langsung jalan,” katanya.

Menurutnya, pungli di setiap daerah besarannya berbeda. Namun, menurut Riyanto, yang paling mahal di luar Jawa, dan yang paling murah di Jateng. ”Saya pernah tanya teman sopir. Kalau luar Jawa bisa Rp 300 ribu sampai Rp 500 ribu setiap pelanggaran kelebihan muatan. Enakan Jawa Timur, kalau yang parah Jawa Barat,” ujarnya.

Pihaknya sangat mengapresiasi kepada pemerintah, termasuk Polri yang gencar dalam pemberantasan pungli. Menurutnya, hal ini lebih meringankan pengeluaran para sopir truk. ”Sopir bisa senang, pungli bisa ditekan,” ucapnya. (mha/aro/ce1)