BARANG BUKTI : Ratusan pil dextro dan hexymer beserta barang bukti diamankan Polres Pekalongan Kota, hasil razia yang dilakukan Sat Narkoba, Kamis malam (3/11) kemarin. (TINWAROTUL FATONAH/JAWAPOS RADAR SEMARANG)
BARANG BUKTI : Ratusan pil dextro dan hexymer beserta barang bukti diamankan Polres Pekalongan Kota, hasil razia yang dilakukan Sat Narkoba, Kamis malam (3/11) kemarin. (TINWAROTUL FATONAH/JAWAPOS RADAR SEMARANG)

PEKALONGAN–Sebanyak 42 remaja yang sedang antre membeli obat terlarang dan satu pemuda sebagai penjual, diamankan petugas kepolisian, Kamis malam (3/11) kemarin. Mereka yang masih di bawah umur ini sedang melakukan transaksi jual beli obat terlarang jenis hexymer dan dextro.

Kapolres Pekalongan Kota, AKBP Enriko Sugiharto Silalahi melalui Kasat Res Narkoba, AKP Junaedi menjelaskan bahwa penggerebekan tersebut dilakukan setelah ada laporan dari masyarakat. Bahwa salah satu rumah di Kelurahan Pringrejo, RT 3 RW 5, Jalan Untung Suropati Nomor 66, Pekalongan Barat, Kota Pekalongan kerap digunakan transaksi obat-obatan terlarang.

Tersangka berinisial RP, 26, tak berkutik, saat anggota Sat Res Narkoba Polres Pekalongan Kota menggeledah rumahnya. Dari hasil penggeledahan ditemukan 960 butir pil dextro dan 190 butir jenis hexymer dan satu set plastik klip. Petugas mengamankan barang bukti lain yakni handphone evercross hitam dan uang Rp 70 ribu.

“960 butir pil dextro, 190 butir jenis hexymer dan satu set plastik klip tersebut tersimpan di almari tersangka. Tersangka dan barang bukti langsung kami bawa ke Mapolres Pekalongan Kota Polda Jateng untuk pemeriksaan lebih lanjut,” sebutnya.

Dalam pemeriksaan, tersangka mengaku 960 butir butir pil dextro dan 190 butir jenis hexymer tersebut didapat setelah membeli dari seseorang yang mengaku bernama Bojil, warga Wonokerto Kabupaten Pekalongan. Namun tersangka belum tahu rumahnya karena setiap transaksi di BRI Mayangan. Harga 1000 butir pil dextro seharga Rp 500 ribu, kemudian tersangka menjualnya secra eceran 10 butir dengan harga Rp 10 ribu.

Junaedi menambahkan, saat ini kasus tersebut akan dikembangkan lebih lanjut. Tersangka akan dijerat dengan Pasal 196 jo 197 UU RI Nomor 36 tahun 2009 tentang kesehatan, dengan pidana penjara maksimal 15 tahun denda paling banyak Rp 1 miliar. Sementara 42 remaja yang kedapatan sedang mengantre tersebut akan diberi pembinaan. (tin/ida)