TERBARING LEMAS: Dokter RS Baitul Hikmah Pucangrejo saat memeriksa salah satu korban keracunan kue tart, kemarin. (BUDI SETYAWAN/JAWA POS RADAR SEMARANG)
TERBARING LEMAS: Dokter RS Baitul Hikmah Pucangrejo saat memeriksa salah satu korban keracunan kue tart, kemarin. (BUDI SETYAWAN/JAWA POS RADAR SEMARANG)

KENDAL – Sebanyak 21 anak warga Desa Pekuncen, Kecamatan Pegandon, Kendal diduga mengalami keracunan kue tart di acara pesta ulang tahun. Mereka muntah-muntah dan diare berat hingga harus dirawat di rumah sakit. Para korban dibawa ke tiga rumah sakit berbeda, yakni RS Baitul Hikmah Pucangrejo 5 anak, Klinik Baitul Hikmah Gemuh 8 anak, dan RSUD Dr Soewondo Kendal satu anak.

”Tujuh korban hanya menjalani rawat jalan setelah menerima perawatan di Puskesmas Pegandon,” jelas Camat Pegandon, Sumartoyo, kepada Jawa Pos Radar Semarang, Rabu (2/11).

Dijelaskan, musibah keracunan tersebut berawal ketika anak-anak menghadiri pesta ulang Liliana Raisa Putri, 5, putri Ahmad Faizin, 35, warga Dukuh Prongkol RT 1 RW 1, Desa Pekuncen, Selasa (1/11) sekitar pukul 13.00 lalu. Pada ulang tahun tersebut, anak-anak disuguhi kue tart dan nasi kuning.

”Sepulang dari acara, petang harinya sekitar pukul 18.00, anak-anak mengeluhkan sakit kepala dan mual serta muntah setelah mengonsumsi kue ulang tahun dan nasi kuning. Mereka lantas dibawa ke beberapa rumah sakit,” bebernya.

Ahmad Faizin mengakui, acara ultah putrinya dihadiri lebih kurang sekitar 45 anak. Mereka semua mendapat nasi kuning dan kue tart serta snack. Semua makanan, diakuinya, dipesan dari sejumlah katering makanan dan toko.

”Acaranya nyanyi-nyanyi, setelah itu tiup lilin dilanjutkan potong kue baru dilanjutkan makan bersama. Saya juga ikut makan kue tart. Usai acara, anak-anak pulang ke rumah masing-masing,” katanya.

Petang itu, usai salat Magrib dirinya mengalami diare dan muntah-muntah. Faizin mengira jika dirinya masuk angin biasa. Ia baru menyadari jika ia keracunan saat beberapa orang tua anak-anak tetangganya mengeluh jika putra-putri mereka mengalami mual, muntah-muntah, dan diare.

”Saya panik dan langsung membawa anak-anak tersebut ke rumah sakit dibantu dengan warga dan tokoh masyarakat. Saya langsung minum air kelapa sebanyak mungkin. Sementara sisa kue dan nasi kuning, saya serahkan ke polisi dan Puskesmas untuk dilakukan pemeriksaan di laboratorium,” katanya.

Dia mengaku asal keracunan diduga dari kue tart. Pasalnya, anak-anak yang tidak makan kue dan cuma makan nasi kuning tidak mengalami sakit. Tapi yang makan kue tart, semua mengalami muntah-muntah dan diare.

”Anak saya itu tidak suka kue, jadi dia cuma makan nasi kuning. Anak saya tidak mengeluhkan sakit, muntah-muntah, mual ataupun diare sama sekali,” jelasnya.

Salah satu korban keracunan, M. Choirul Anam, mengaku kepalanya pusing dan mual setelah makan kue tart ulang tahun. ”Beberapa jam kemudian, saya mengalami mual, muntah-muntah dan diare,” kata M. Choirul Anam.

Turiyo, salah satu orang tua korban mengatakan, kue ulang tahun dan nasi kuning dibawa pulang dan dimakan. Namun mereka kebanyakan makan di lokasi ulang tahun. ”Setelah magrib, anak saya mendadak pusing dan langsung muntah-muntah,” jelas Turiyo, orang tua Raisa Safana Putri.

Kasus keracunan makanan ini masih ditangani oleh aparat Polsek Pegandon. Pihak kepolisian sudah melakukan penyelidikan dengan memeriksa para korban dan Ahmad Faizin. Polisi juga sudah meminta sisa kue tart dan nasi kuning untuk diperiksa di laboratorium. (bud/ida/ce1)