Perangi Narkoba lewat Khotbah Jumat

160
ANTINARKOBA: Ketua MUI Jateng, Ahmad Daroji, saat meneken deklarasi melawan narkoba di halaman kantor Gubernur Jateng, Kamis (27/10). (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
ANTINARKOBA: Ketua MUI Jateng, Ahmad Daroji, saat meneken deklarasi melawan narkoba di halaman kantor Gubernur Jateng, Kamis (27/10). (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Majelis Ulama Indonesia (MU) Jateng menginstruksikan kepada seluruh pengurus masjid di wilayah Jateng untuk menyelipkan bahaya narkoba dalam khotbah salat Jumat. Hal itu diorasikan Ketua MUI Jateng, Ahmad Daroji, dalam deklarasi melawan narkoba di halaman kantor Gubernur Jateng, Kamis (27/10).

Dikatakannya, khotbah antinarkoba dirasa cukup strategis agar masyarakat, khususnya para pemuda, mengetahui seberapa besar bahaya narkoba. Dari data terakhir, pengguna narkoba di Jateng tembus 650 ribu orang. Angka itu  mencapai prevalensi 1,96 persen atau mendekati 2 persen kategori darurat narkoba. Setiap hari, ada 50 orang meninggal karena narkoba.

”Kalau itu terjadi terus-menerus, maka akan terjadi kerusakan generasi muda kita,” ujarnya.

Khusus untuk khotbah Jumat hari ini (28/10), materi khotbah di seluruh masjid di Jateng, sama. Pihaknya sudah membuat materi yang didistribusikan di seluruh masjid. Bisa jadi ada sedikit improvisasi dari khatib. Sebab, bersamaan dengan Hari Sumpah Pemuda.

Menurutnya, pemilihan khotbah sebagai cara sosialisasi bahaya narkoba sangat efektif. Di Jateng ada sekitar 35 ribu masjid, jika satu masjid rata-rata dihadiri 300 orang, tentu sangat efektif. Apalagi untuk masjid besar seperti Masjid Raya Baiturrahman Semarang, setiap salat Jumat bisa dihadiri hingga 4 ribu orang.

”Forum mana yang bisa mendatangkan ratusan ribu orang untuk memberikan penjelasan begitu?” katanya setengah bertanya.

Meski begitu, Daroji tidak memungkiri jika dari sekian jamaah yang hadir pada salat Jumat tentu apa yang diharapkan dari jamaah tidak sama. ”Ada yang intensif menangkapnya 100 persen dan ada yang tidak, tapi bisa menangkap 20 persen tidak apa-apa,” ujarnya.

Dia menambahkan, selain deklarasi ini, sebelumnya juga digelar halaqah ulama se-Jateng untuk melawan narkoba. Sebagai tindaklanjutnya, MUI Jateng akan merekomendasikan ke Dinas Pendidikan dan Kementerian Agama agar bahaya narkoba dimasukkan dalam kurikulum pendidikan.

Landasan hukum agama untuk melawan narkoba juga termaktub dalam Alquran surat At-Tahrim ayat 66. ”Artinya, wahai orang-orang yang beriman peliharalah dirimu dan keluargamu dari siksa api neraka,” tuturnya.

Pada apel dan deklarasi tersebut, dihadiri Kepala BNNP Jateng Brigjen Pol Tri Agus Heru Prasetyo, para rektor perguruan tinggi di Jateng, pimpinan organisasi keagamaan dan kemasyarakat di Jateng, Kemenag Jateng, para pelajar, dan Gubernur Jateng Ganjar Pranowo sebagai inspektur upacara.

Ganjar Pranowo berharap gerakan melawan narkoba ini tidak hanya sekadar deklarasi melainkan harus ditindaklanjuti dengan kegiatan nyata. Pada para pelajar, ia meminta agar menyibukkan diri dengan kegiatan yang positif. Misalnya, ikut kompetisi penelitian supaya tak sempat berpikir negatif.

”Semua buatlah kampanye antinarkoba yang unik, yang bisa menempel di hati dan pikiran masyarakat,” katanya.

Menurutnya, gerakan ini mestinya juga dilakukan dengan gerakan keberanian untuk melapor. Ia berharap, BNN juga membuka kanal aduan seluasnya ke masyarakat untuk bisa melapor. ”Agar reaksinya cepat seperti pungli,” ujarnya. (amh/aro/ce1)

Silakan beri komentar.