Yuri Dulloh Ciptakan Bumbung Penyaring Kopi, Pengganti Mesin Espresso, Hanya Dijual Rp 60 ribu

498
INOVATIF: Tegoeh Wynarno Haroeno saat mencoba bumbung espresso karya dan Yuri Dulloh (kiri) di Kantor Balitbang Jateng, kemarin. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
INOVATIF: Tegoeh Wynarno Haroeno saat mencoba bumbung espresso karya dan Yuri Dulloh (kiri) di Kantor Balitbang Jateng, kemarin. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Seruas bambu atau bumbung disulap Yuri Dulloh menjadi peranti penyaring kopi. Tidak semata untuk membuat secangkir kopi tanpa ampas, alat ini juga mampu menghasilkan espresso. Seperti apa?

AJIE MAHENDRA

BAGI penikmat kopi, pasti sudah tidak asing dengan espresso. Espresso boleh dibilang biang kopi yang bisa dikembangkan menjadi beragam jenis minuman. Seperti moccacino, cappucino, caffe late, dan lain sebagainya. Sajian itu juga bisa dinikmati langsung.
Lumrahnya di kafe kopi, untuk satu cup espresso dibanderol lebih dari Rp 10 ribu. Maklum, untuk menghasilkan sesloki espresso, para barista butuh mesin espresso yang harganya cukup mahal. Antara Rp 4 juta, hingga puluhan juta rupiah.

Namun sekarang bagi yang ingin menikmati espresso setiap pagi, tidak perlu repot-repot datang ke kafe. Tidak perlu juga membeli mesin pembuat espresso yang mahal. Cukup memesan bumbung yang sudah didesain khusus oleh Yuri, siapa saja bisa membuat espresso. Harganya yang ditawarkan pun cukup terjangkau. Hanya Rp 60 ribu, sudah termasuk satu sachet kopi Kebumen yang punya cita rasa oke jika diolah menjadi espresso.

Untuk bisa membuat espresso dari bumbung ciptaan Yuri, penikmat kopi memang dituntut untuk mengerti seputar kopi. Setidaknya tahu tingkat kehalusan serbuk kopi, hingga komposisi antara air dan kopi.

”Tapi, itu bisa dipelajari dengan cepat. Lagi pula kenikmatan kopi itu tergantung selera. Pekat atau tidaknya, suka-suka yang mau minum,” ucap Yuri kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Alat ciptaan pria keahiran Kebumen 1978 silam ini sebenarnya sangat simpel. Satu ruas bumbung yang diameternya tidak terpaut jauh dari mulut gelas belimbing, dipangkas hingga sepanjang setengah jengkal. Di bagian buku atau penyekat bambu, diberi lubang kecil-kecil. Nyaris rapat hingga mirip saringan. Agar lebih menarik, kulit bambu dibubut hingga halus agar bisa diberi coretan atau ornamen gambar dan tulisan. Bentuknya pun didesain mirip gelas agar tampak elegan.

Cara menggunakannya juga mudah. Bumbung tersebut diisi kopi, sesuai selera. Kemudian diletakkan di atas gelas, kemudian diisi air mendidih. Tinggal menunggu air yang melewati serbuk kopi turun ke gelas. Prosesnya memang agak lama. Untuk mendapatkan seperempat gelas belimbing butuh waktu antara 5-10 menit. Mungkin ini kelemahan jika dibanding menggunakan mesin espresso. Selain itu, kopi yang disaring dari bumbung ini tidak menghasilkan crema atau buih keemasan khas espresso.