Lanjut Agus, membuka usaha jasa binatu sejak 2013 silam hanya dibantu istrinya, Maria Setiwinarni, dan seorang karyawan perempuan. Mengingat usahanya dibanjiri pelanggan, akhirnya Agus nekat menciptakan alat tersebut dengan dibantu dua karyawan laki-laki.

”Membutuhkan waktu kurang lebih 14 hari mulai proses perakitan sampai jadi. Awalnya, proses pembuatan perakitan box pengering sekitar 2 sampai 3 hari. Box jadi, tinggal merakit panel, agak lama sekitar 1 mingguan,” jelasnya.

Menurut Agus, tingkat kesulitan dalam menciptakan alat ini harus meriset dahulu suhu panas supaya lebih optimal, tidak terlalu panas tidak terlalu dingin. Hanya membutuhkan ukuran panas 30 sampai 54 derajat.

”Sehingga kalau lebih atau kurang, otomatis nyala pemanasnya bekerja. Begitu kita pasang on, itu panas naik terus sampai 55 derajat dan pemanasan berhenti. Tidak usah ditunggu karena sudah ada timer. Ada tanda timer, butuh waktu 1 jam mati sendiri. Tidak khawatir kebablasan,” katanya.

Hasil karyanya ini diakuinya masih menggunakan energi arus listrik sehingga memiliki sisi kekurangan dan kelebihan yakni apabila listrik padam maka alat tersebut ikut mati.

”Bila listrik padam, kami tidak khawatir. Mesin tidak bekerja, karena diberi otomatis. Untuk angin buatan, pakai aliran listrik. Kalau untuk sumber energi pemanas dari gas. Makanya kami sedia genset untuk mengantisipasi kalau listriknya padam,” katanya.

Selain menciptakan pengering yang konvensional kecil, juga pengering besar untuk karpet, pakaian pengantin atau jas. Alat tersebut menggunakan sumber panas yang sama yakni tabung gas elpiji 12 kg. ”Selain bisa mengeringkan pakaian, juga bisa mengeringkan helm. Ke depan akan kami sempurnakan lagi. Daya listrik akan bertambah, karena menambah daya listrik,” pungkasnya. (*/ida/ce1)