Istri Polisi dalam Balutan Batik Jateng

779
MODEL DADAKAN: Seorang anggota Bhayangkari Jateng saat menjadi model busana batik Keris di Gedung Lawang Sewu, tadi malam. (NURCHAMMIM / JAWAPOS RADARSEMARANG )
MODEL DADAKAN: Seorang anggota Bhayangkari Jateng saat menjadi model busana batik Keris di Gedung Lawang Sewu, tadi malam. (NURCHAMMIM / JAWAPOS RADARSEMARANG )

SEMARANG – Keelokan batik Jawa Tengah ditampilkan dalam Gelar Budaya Pelangi Nusantara di halaman Gedung Lawang Sewu, tadi malam. Kekhasan corak batik dari masing-masing daerah di Jawa Tengah hadir dalam desain-desain yang telah dimodifikasi mengikuti perkembangan zaman.

Puluhan ibu-ibu pengurus daerah Bhayangkari Jateng didaulat menjadi model untuk membawakan gaun malam bermaterial batik. Berlatar kemegahan Gedung Lawang Sewu, satu per satu para istri anggota polisi ini berlenggang di atas panggung layaknya model profesional.

Warna-warna cerah khas batik pesisir menjadi pembuka. Mulai dari long dress bermaterial batik hijau muda yang dipertegas dengan obi oranye hingga dress batik merah yang tampil gemerlap dengan taburan payet.

Begitu juga dengan batik-batik warna alam. Aura kesederhanaan hadir dari paduan batik bernuansa cokelat dan hitam. Desain simpel semakin menonjolkan sisi elegan dari busana malam itu.

Selain fashion show, dalam acara yang dipersembahkan oleh Batik Keris serta ibu-ibu Pengurus Daerah Bhayangkari Jateng ini juga ditampilkan sejumlah tarian serta hasil kerajinan tangan dan kuliner khas Jateng.

Ketua Tim Penggerak PKK Jateng, Atikoh Ganjar Pranowo, yang hadir dalam acara tersebut mengungkapkan, melalui gelar budaya ini diharapkan gaung budaya Jateng semakin tersiar.

”Dengan begitu dampaknya akan lebih besar, termasuk juga wisata Jateng yang bisa didukung dari berbagai sudut. Selain itu, batik juga sudah menjadi warisan leluhur, harapannya juga bisa diturunkan ke anak-anak muda melalui sosialisasi dan edukasi,” ujarnya.

CEO Batik Keris, Handianto Tjokrosaputro, mengatakan, pihaknya telah berkomitmen agar batik tetap menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Yakni, dengan terus menggali dan melestarikan budaya yang dicerminkan dalam corak-corak batik. ”Agar batik ini dapat diterima dan tidak lekang oleh zaman, kami terus memodikasi desain dan berinovasi yang disesuaikan dengan perkembangan zaman,” katanya. (dna/aro/ce1)