LAYANI PENGIRIMAN SURAT : Karyawan Kantor Pos Johar Kota Semarang saat sedang melayani pengiriman surat dari instansi di Kota Semarang. (NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
LAYANI PENGIRIMAN SURAT : Karyawan Kantor Pos Johar Kota Semarang saat sedang melayani pengiriman surat dari instansi di Kota Semarang. (NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)

BISA jadi, tidak lama lagi istilah sahabat pena bakal punah. Surat menyurat person to person yang biasanya dititipkan Kantor Pos, sudah diganti surat elektronik (surel) atau electronic mail (email). Untuk komunikasi dengan teman, kenalan, atau saudara pun, kini lebih nyaman menggunakan jasa aplikasi messanger seperti Black Berry Messenger (BBM), WhatApps (WA) dan lain sebagainya.

Baca: Budaya Berkirim Surat Tergerus Zaman, Hanya untuk Kirim Barang dan Surat Resmi

Kepala Kantor Pos Johar Semarang, Chaerul Hadi mengakui, kemajuan teknologi perpesanan memang merontokkan eksistensi surat konvensional. Sejak internet gampang diakses masyarakat, trafik surat menyurat di Kantor Pos langsung meredup.

Meski begitu, surat perorangan atau person to person, jumlahnya memang sangat sedikit. Masih ada warga yang menggunakan surat untuk media komunikasi. Biasanya karena ada tugas dari sekolah atau keperluan lain. “Jadi sudah jarang warga yang menjalin hubungan lewat surat atau istilahnya sahabat pena. Sudah hampir punah,” tegasnya, kemarin.

Agar kekhawatiran punahnya sahabat pena tidak menjadi kenyataan, PT Pos Indonesia menggelar program bertajuk creative writing. Program nasional yang menggandeng Dinas Pendidikan ini sudah berjalan sekitar empat tahun. Kebetulan tahun ini mampir ke Ibu Kota Jateng. Bulan lalu, SMAN 2 menjadi titik kumpul 24 SMA di Semarang.

Dijelaskan Chaerul, creative writing digadang-gadang mampu mendorong para remaja untuk mau menulis. Termasuk menulis surat. “Tapi diawali dengan sosialisasi gemar membaca. Soalnya, kalau membaca saja malas, apalagi menulis,” ucapnya.

Sejak program itu berjalan, surat person to person mulai muncul meski hanya segelintir. Saat ini, di Kantor Pos lebih banyak menerima surat instansi ke instansi, instansi ke perseorangan, atau perseorangan ke instansi.

Surat tersebut, lanjut Chaerul, biasanya berisi dokumen-dokumen. Seperti penagihan kartu kredit, informasi program finance, pemberitahuan pajak, lamaran kerja, dan lain sebagainya. Terkait porsi khusus surat, dia belum pernah menghitung. Sebab, di Kantor Pos, surat dikelompokkan bareng paket atau barang.

“Saya belum pernah menghitung sendiri. Yang jelas, dari beberapa jasa yang disediakan Kantor Pos, kelompok surat dan paket menduduki peringkat tertinggi,” tegasnya.

Merosotnya jumlah pengiriman surat, praktis berdampak pada pemakaian perangko. Warga atau instansi lebih memilih menggunakan pos kilat atau ekspress untuk biaya pengiriman surat. Bus surat pun sudah jarang dipakai karena pengirim surat lebih nyaman datang langsung ke Kantor Pos cabang terdekat.

“Tapi masih ada satu dua surat yang dimasukkan ke bus surat. Biasanya bus surat yang ada di depan instansi atau perkantoran. Yang pakai ya pegawai di sana. Kalau orang biasa yang menyempatkan diri berhenti di depan bus surat untuk memasukkan surat, rasanya sudah tidak ada,” tegasnya. (amh/ida)