LAYANI PENGIRIMAN SURAT : Karyawan Kantor Pos Johar Kota Semarang saat sedang melayani pengiriman surat dari instansi di Kota Semarang. (NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
LAYANI PENGIRIMAN SURAT : Karyawan Kantor Pos Johar Kota Semarang saat sedang melayani pengiriman surat dari instansi di Kota Semarang. (NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
LAYANI PENGIRIMAN SURAT : Karyawan Kantor Pos Johar Kota Semarang saat sedang melayani pengiriman surat dari instansi di Kota Semarang. (NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
LAYANI PENGIRIMAN SURAT : Karyawan Kantor Pos Johar Kota Semarang saat sedang melayani pengiriman surat dari instansi di Kota Semarang. (NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
Hadirnya media elektronik memang telah menggeser kebiasaan mengirim surat via pos. Pengiriman pesan, saat ini bisa dilakukan menggunakan gadget yang dimiliki hampir setiap orang, kapanpun dan dimanapun. Lantas bagaimana nasibnya surat pos ini?

DI balik kesibukannya bekerja sebagai jurnalis di Semarang, Jenar–bukan nama sebenarnya, memiliki hobi unik yang terus diabadikan.

Selain merupakan salah seorang Stamps Collector (Pengumpul Prangko) atau sering disebut Filatelis, ia juga pengguna jasa surat pos.
Tak salah, bila almari milik penulis berita ini berjejal tumpukan kertas wangi. Ada ratusan lembar surat tulisan tangan lengkap dengan amplop dan prangko. Baik surat dari teman-teman SMP, keluarga, hingga teman kuliah. Sepucuk surat bertahun 1995 semasa ia masih duduk di bangku SMP pun masih diabadikan. Sebagian yang lain menjadi hiasan di sebuah papan menempel di tembok kamar.

“Saya suka mengirim surat melalui pos. Asyik aja, ada nilai seni yang menurut saya tak bisa digantikan menggunakan media elektronik modern. Misalnya asli tulisan tangan menggunakan pena tinta hitam,” kata dia saat disambangi Jawa Pos Radar Semarang, belum lama ini.
Ia mengaku hingga kini masih sering menggunakan pengiriman surat via kantor pos. Meski tak sesering dulu. “Minimal sebulan sekali, saya masih kirim dan terima surat via pos,” kata dia yang enggan disebut nama aslinya.

Menurutnya, berbagai jenis surat tersebut bukan hal penting. Akan tetapi, ia menyakini akan berharga di kemudian hari. Bukan tanpa alasan, sebagian di antaranya merupakan berbagai kisah asmara selama ia menjalin hubungan asmara dengan sejumlah wanita sejak masih ABG. Ada cuplikan-cuplikan kisah yang tertuang di lembaran surat tersebut. Ada romantisme masa lalu yang kadang mengharukan. Tapi menyenangkan sekaligus lucu jika dibaca di kemudian hari.

“Bahkan setiap menjalin kisah dengan teman dekat (kekasih), saya selalu tidak ketinggalan berkomunikasi menggunakan surat. Menunggu kabar atas datangnya surat. Surat itu senin. Seni yang tidak bisa tergantikan oleh pesan elektronik yang cepat, misalnya email, BlackBerry Messenger (BBM), WhatsApp, SMS, Line, video call. Saya menggunakan semua teknologi itu, tapi tidak bisa meninggalkan surat tulisan tangan,” katanya.