Dwi Marliza Septianingrum (DOKUMENTASI PRIBADI)
Dwi Marliza Septianingrum (DOKUMENTASI PRIBADI)
Dwi Marliza Septianingrum (DOKUMENTASI PRIBADI)
Dwi Marliza Septianingrum (DOKUMENTASI PRIBADI)
DI tangan Dwi Marliza Septianingrum, kain batik disulap menjadi busana yang elegan. Dengan memanfaatkan kain satin dan keeksotisan batik Cirebon, busana ciptaannya mampu merangsang kaum hawa untuk memilikinya. Dia sudah melahirkan lima varian busana. Busana-busana itu terpilih menjadi bagian dari pameran busana batik bertaraf nasional yang digelar di Jogjakarta, beberapa waktu lalu.

Dia mengaku, konsep busana tersebut terinspirasi sifat unik wanita yang tidak menentu, tidak tertebak, tapi selalu dinamis. ”Yang jelas, tidak sisi utamanya, yaitu halus, penuh kelembutan, dan feminin. Sifat-sifat itu menjadi satu kesatuan yang unik,” ucapnya.

Desainer yang beken dengan nama Liza Supriyadi ini mengungkapkan bahwa motif batik punya nilai eksotis yang tidak dimiliki kain lain. Sisi fashionable-nya pun cukup tinggi dan pantas dipakai semua segmen. ”Bahkan, batik bisa menyaingi perkembangan dunia fashion dunia,” tegasnya.

Liza menceritakan, sudah getol dunia desainer sejak masih duduk di bangku sekolah. Dia pun coba mengasah bakatnya lewat salah satu sekolah desainer busana ternama di Kota Semarang. Di sana, Liza merasa lebih mantap mengembangkan kreasi.

Kini Liza nekat melahirkan brand busana sendiri bernama LZ. Selain menyediakan koleksi batik, dia juga fokus merancang busana muslim yang kasual. (amh/ida/ce1)