APEL AKBAR: Sekda Pemkab Demak dr Singgih Setyono MMR didampingi Kabid Kedaruratan BPBD Mahfudz meninjau alat penanganan bencana dalam tenda, kemarin. (WAHIB PRIBADI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
APEL AKBAR: Sekda Pemkab Demak dr Singgih Setyono MMR didampingi Kabid Kedaruratan BPBD Mahfudz meninjau alat penanganan bencana dalam tenda, kemarin. (WAHIB PRIBADI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

DEMAK-Potensi bencana di wilayah Kota Wali menjadi perhatian serius Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat. Setelah dipetakan, setidaknya ada beberapa karakter bencana yang berpotensi terjadi di Demak ini. Yakni, banjir, banjir bandang, angin puting beliung, kebakaran, kegagalan teknologi, epidemis penyakit, gelombang tinggi atau abrasi, gempa bumi dan kekeringan.

Kepala pelaksana BPBD Demak, Anjar Gunadi melalui Kabid Kedaruratan dan Logistik, Mahfudz mengungkapkan bahwa untuk mengetahui karakter potensi bencana seperti itu dibutuhkan agar masyarakat dapat meningkatkan kewaspadaan. “Demak ini sesuai kajian risiko kebencanaan punya sejumlah karakter bencana, termasuk gempa bumi,” katanya.

Bahkan, jika dihitung paling sering terjadi selain banjir adalah bencana kebakaran. Menurutnya, setiap seminggu rata-rata ada 3 kejadian kebakaran, utamanya kebakaran rumah. Sedangkan, wilayah paling kerap ada kebakaran yakni wilayah Kecamatan Karangawen, Mranggen dan Guntur.

Dia menambahkan, tingkat potensi kebakaran memang cukup tinggi. Setelah dilakukan penelitian setiap ada peristiwa kebakaran ternyata terbanyak disebabkan arus pendek listrik.
“Jadi, tingkat kecerobohan warga pemilik rumah cukup tinggi. Banyak rumah yang memakai kabel listrik tidak standar nasional Indonesia (SNI). Karena itu, kabel-kabel yang dipakai tidak sesuai spesifikasi standar keselamatan,” katanya.

Mahfudz mengatakan, selian faktor kabel yang jelek, juga pemasangan stop kontak pembagi arus listrik yang sembrono. Misalnya, satu stop kontak dipakai 3 sambungan kabel. Selain untuk magic jer, televisi juga untuk kipas angin. “Pernah ada kejadian televisinya njebluk (kebakaran, red) lalu api menjalar membakar rumah. Itu seperti yang terjadi di Karangawen dan Mranggen,” jelas dia.

Dia pun berharap sekaligus mengingatkan masyarakat agar kabel rumah yang dipakai harus standar SNI supaya dapat mengurangi risiko kebakaran rumah. (hib/ida)