Djawahir Muhammad
Djawahir Muhammad

Djawahir Muhammad
Djawahir Muhammad

SUNGGUH sayang, Pasar Johar yang terbakar pada Mei 2015 lalu sampai kini belum ada tanda-tanda segera diperbaiki. Pedagangnya yang ribuan jumlahnya memang telah direlokasi ke sebelah Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT), tapi nilai fisiknya sebagai cagar budaya maupun nilai non fisiknya yang tidak teraba (intangible) sebagai pemangku warisan budaya Semarangan tidak bisa diselamatkan. Padahal di sanalah warisan budaya orang Semarang tersimpan. Ingin tahu? Baiklah, kalau sampeyan ingin tahu watak orang Semarang, kenanglah Pasar Johar, karena selama sehari–semalam Pasar Johar sesungguhnya memrepresentasikan tradisi wong Semarang yang cukup lengkap.

Selain memiliki sifat-sifat religiusitas (keagamaan), entrepreneurship (wiraswasta), egalitarian (ketersamaan) dan equality (keterbukaan), masyarakat Semarang memiliki nilai-nilai budaya lokal sebagai Wong Jawa maupun sebagai Wong Pesisir. Tapi terhadap dua varian budaya besar itu, Wong Semarang lebih dekat menjadi penganut tradisi budaya pesisir alias Wong Pasar (istilah Darmanto Jatman), daripada menjadi priyayi yang berkonotasi sebagai pangreh praja yang mapan hidupnya. Hal ini disebabkan karena secara historis, Semarang memang pernah berada di bawah daulat Keraton Surakarta yang feodalististik, namun juga mayoritas menjadi pemeluk Islam yang egaliter, equal, dan menganjurkan pemeluk-pemeluknya hidup mandiri alias punya jiwa enterpeneurship alias pedagang. Meskipun alasan yang paling masuk akal karena letak geografisnya yang lebih dekat ke wilayah pantai/ pesisir, dari pada lebih dekat ke wilayah pedalaman. Orang Semarang juga menjadi subjek dari budaya hybrid (campuran dengan budaya asing) dan budaya Indis (campuran dengan budaya Belanda), sebagaimana nasib orang Indonesia lainnya yang pernah dijajah kolonialis Belanda.

Akan tetapi dari beragam bentuk budaya yang diserapnya, mayoritas orang Semarang adalah penganut tradisi atau budaya pesisiran, yakni interaksi budaya yang berlangsung antara orang Jawa (di wilayah pesisiran), melalui perpaduan perilaku individu dan sosial, perdagangan, diplomasi politik dan militer yang melahirkan watak kosmopolit atau berorientasi ke budaya kota (Simuh, 2002).

Tradisi ini banyak dipengaruhi oleh perkembangan sejarah dan budaya di wilayah pesisir pascakeruntuhan kekuasaan Majapahit. Budaya Islam yang masuk ke Indonesia kemudian menggantikan peran Majapahit, melalui penetrasi tradisi Islam oleh penguasa Kkesultanan Demak, Cirebon, dan Banten. Tradisi Islam memperkenalkan kepada masyarakat Indonesia khususnya di pesisir utara Jawa mengenal prinsip-prinsip persamaan, keterbukaan dan hak-hak asasi manusia. Pandangan terhadap kebudayaan dunia semakin luas dengan kedatangan berbagai bangsa dari Eropa, Arab, India hingga Tiongkok yang membawa serta pernik-pernik kebudayaannya. Proses pertemuan lintas budaya inilah yang menjadikan orang-orang Jawa pesisiran menjalani revolusi mental yang bersifat kosmopolit dan terbuka, yakni terhadap interaksi lintas budaya dan lintas etnis. Kebangkitan fungsi ekonomi bandar-bandar di pesisir laut Jawa dari era Majapahit ke era Islam, turut mempercepat interaksi dan akselerasi lintas peradaban di kawasan ini, yang kemudian membentuk entitas baru yakni tradisi pesisiran yang bersifat kosmopolit, egaliter atau equality (kesejajaran).

Tradisi pesisir juga bukan berarti bahwa kehidupan orang Semarang didominasi oleh profesinya sebagai orang pesisir yakni nelayan atau pedagang. Tetapi oleh sikapnya yang –secara profetik- penuh perlawanan terhadap hal-hal yang dipaksakan atau dimapankan (by forced, established) oleh rezim penguasa. (Purnomo, 2012:12).

Sebagai implikasinya, orang Semarang lebih memilih kehidupan yang memberikan iklim kebebasan beragama, berpolitik, bermata pencaharian, bermitra dan berkebudayaan secara kosmopolit atau global (ized), daripada kehidupan lokal yang mapan meskipun kemapanan itu menjanjikan kondisi tertentu. Dengan formulasi pendek, karakter orang Semarang dapat dirumuskan sebagai memilih menjadi majikan kecil daripada menjadi kacung besar!

Karakter itulah yang secara inherent melekat pada pedagang atau Wong Semarang di Pasar Johar; religius, egaliter, entrepreneurship, dan equality. Bukan karena tradisi pesisirannya, bukan karena tradisi pedalamannya. Contoh perilakunya seperti terlihat dari pedagang di Pasar Johar tersebut: berdagang dari pagi sampai sore, melayani pembeli tanpa membedakan pangkat, membuka kesempatan tawar-menawar terhadap barang dagangannya, lalu sembahyang Duhur di Masjid Kauman bila saatnya tiba! Interaksi sosial dan irama kehidupan Wong Semarang sejak zaman Ki Ageng Pandanaran, Ceng Ho, Pangeran Puger, Cornelis Spelman sampai zaman Jepang, zaman Kemerdekaan, zaman Orde Baru dan Reformasi ini merupakan warisan budaya yang harus diselamatkan dalam relokasi Pasar Johar Semarang ke MAJT, atau (mungkin) ke tempat yang lain. (*/ida/ce1)

*) Penulis adalah Budayawan Semarang, djawahirmuh@yahoo.com