Korban Pencabulan Sempat Bekerja di Kafe

331

BLORA – Kasus pelecehan seksual yang dialami EV, siswi kelas VI SD di salah satu sekolah di Kecamatan Blora Kamis (8/9), ikut mendapat perhatian dari Komisi D DPRD Kabupaten Blora.

Lima anggota Komisi D DPRD Blora kemarin mendatangi sekolah untuk meminta pihak guru agar terus melakukan pendampingan serta pemantauan kondisi korban. DPRD juga meminta agar anak tersebut bisa terus sekolah.

“Korban masih butuh pembinaan, kasih sayang orang tua, dan support dari orang-orang di sekelilingnya,” ungkap Siti Rochmah Yuni Astuti, salah satu anggota DPRD kemarin.

Anggota DPRD lainnya, Irma Isdiana tidak menyangka di Blora ada kasus pelecehan seksual yang dengan kejamnya merenggut kegadisan seorang anak yang masih berusia 11 tahun.

Sementara itu, di hadapan anggota DPRD, EV mengaku sebelum kejadian sempat bekerja di sebuah kafe-karaoke selama tiga hari. Dia juga pulang larut malam. Namun pascakejadian tersebut dia mengaku sudah kapok dan tidak akan kembali lagi bekerja dan pergi sendirian keluar rumah.

“Saya nyanyi di kafe-karaoke milik ibu teman saya, tiga hari, sekarang tidak lagi,” ujarnya.

Kepala sekolah melalui wali kelas EV mengaku, sebelum peristiwa terjadi, EV mengalami beberapa perubahan. Mulai dari hasil ulangan dan pekerjaan rumah (PR) sering mendapatkan nilai nol. “Saya juga heran, saat saya tanya dia tidak mau menjawabnya,” jelasnya.

Dia pun mengaku mendapat laporan dari teman-teman korban kalau selama beberapa hari ia mengantongi uang saku Rp 100 ribu. Saat diklarifikasi oleh guru, EV mengaku hasil dari bekerja malam.

“Katanya hasil dari kerja mencuci piring, tapi saya tidak percaya, tapi dia tetap tidak mau mengaku,” imbuhnya.

Dari pantauan Jawa Pos Radar Kudus di lokasi kemarin, korban tetap tampak riang. Dia mengaku ke depan ingin jadi guru. Dia juga berjanji akan belajar serius dan tidak mengecewakan guru serta orang tuanya. (sub/aji)