Keluarga Ingin Gombloh dkk Dihukum Seberat-Beratnya

285

BLORA – Direnggutnya kehormatan anak semata wayangnya oleh empat pemuda desa Gombloh, Kucing, Yanto dan Bajing warga Dukuh Merah Desa Sitirejo Kecamatan Tunjungan Kabupaten Blora membuat Kuspratiningsih (ibu korban) mengelus dada.

Hal ini diungkapkan oleh Kusprati kepada Jawa Pos Radar Kudus di kediamnanya kemarin. Dia mengaku kalau selama ini anaknya memang agak bandel dan kurang kasih saying orang tua. Sebab sejak kecil hidup bersama kakek neneknya. Sementara dirinya pagi hingga pukul 18.00 bekerja di rumah-rumah sementara malamnya berjualan nasi goreng.

Kuspratiningsih mengaku sejak usia delapan bulans udah ditingal ayahnya pergi entah kemana. Sejak saat itu diasuh diirnya sendiri dengan kakek neneknya. Begitu juga saat pergi bermain dirinya jarang melakukan pengontrolan.

“Kalau main biasanya bilang ingin main sama nenek dan kakeknya, saya tidak tau karena tidak dirumah,”jelasnya.

Untuk pergaulan sendiri, korban memnag sering bergaul dengan orang yang usianya diatas darinya. Mulai dari para pemuda dan anak-anak SMA. “Memang anak saya bergaulnya sama orang dewasa,”jelasnya.

Sebelum kejadian tersebut terjadi, Korban juga sempat bernyanyi di karaoke dekat desa setempat. Namun saat itu di suruh pulang dan dijemput Kuspratiningsih.”Dua atau tiga hari sebelum kejadian ini anak saya juga nyanyi di café karaoke di dekat toko grabah sana, yang dijaga oleh ibu Arief, mungkin karena di kasih uang jadinya senang, namanya anak,”imbuhnya.