Antre Daging Kurban Hingga Sejauh 500 M

212

RIBUAN warga antre pembagian daging kurban di Masjid Agung Semarang, Senin (12/9). Saking banyaknya warga, antrean mengular hingga sepanjang 500 meter atau setengah kilo meter yang dibagi menjadi dua lajur di sepanjang Jalan Kauman Raya, Semarang Tengah. Lajur kanan untuk wanita dan lajur kiri untuk laki-laki. Pembagian daging kurban itu dijaga ketat puluhan petugas Polrestabes Semarang dan Polsek Semarang Tengah dibantu Banser serta Satpol PP Kota Semarang. Selain itu, juga puluhan santri Pondok Pesantren Roudhotul Quran.

Pembagian daging kurban di Masjid Kauman ini dimulai pukul 15.00. Agar lebih tertib, sebanyak 20 pengantre wanita masuk lebih dulu ke kompleks masjid untuk menerima paket daging kurban seberat 3 ons. Berikutnya, giliran 20 pengantre laki-laki, begitu seterusnya dengan bergantian. Selain itu, dalam mengambil daging kurban, para lanjut usia (lansia) didahulukan. Mereka tidak perlu ikut antre, tapi langsung dipersilahkan masuk lewat pintu belakang.

“Warga harus antre karena di sini tidak menyebar kupon dalam pengambilan daging kurban. Karena kalau menggunakan kupon, harus bekerja dua kali. Agar tidak dobel, setelah menerima daging kurban warga menyelupkan jarinya ke tinta seperti saat coblosan,” beber Koordinator Distribusi Daging Kurban Masjid Agung Semarang, Muhaimin kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Tahun ini, kata dia, Masjid Agung Semarang menyembelih 14 ekor sapi dan 53 ekor kambing yang dibagikan kepada 4.780 warga.
Nurjanah, 54, warga Kebonharjo, Semarang Utara mengaku tiba di Masjid Agung Semarang sejak pukul 09.00. Ia datang bersama anak dan cucunya. “Nunggunya lama, tetapi tidak apa-apa, kapan lagi dapat daging gratis,” katanya.

Sementara itu, ribuan warga kemarin mengikuti salat Idul Adha di halaman Balai Kota Semarang. Dalam kesempatan itu, hadir Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi bersama jajaran Muspida dan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD).

Dalam khotbahnya, DR KH Mohammad Arja’ Imroni  yang berjudul Kontekstualisasi Teladan Keluarga Nabi Ibrahim menyebutkan, tiga makna besar yang terkandung dalam tindakan pengorbanan. Pertama, ketaatan dan kepatuhan tanpa reserve terhadap anjuran, tatib, aturan, kesepakatan atau perikatan sosial yang telah disepakati bersama.