Di Kota Semarang banyak permukiman entah resmi atau liar yang berada di antara batu nisan makam. Ada juga permukiman di antara bong China. Anak-anak setempat santai bermain di antara batu nisan. Bagaimana ‘warga makam’ ini menjalani kehidupannya? 

TINGGINYA kebutuhan perumahan di Kota Semarang membuat sejumlah warga yang tak mampu membeli rumah terpaksa nekat membangun rumah di kawasan makam. Berbagai alasan dikemukakan warga demi mendapatkan rumah yang layak. Hal ini terjadi karena harga rumah semakin mahal dan sulit dijangkau.

Di Kampung Karanggawang Lama, Kelurahan Sendangguwo, Tembalang contohnya. Makam etnis Tionghoa yang ada di wilayah tersebut kini telah beralih fungsi menjadi permukiman warga. Ratusan rumah berdiri di antara bong China. Entah mulai kapan kawasan makam Tionghoa atau Bong China tersebut beralih fungsi. Yang pasti, sejauh mata memandang, di samping, depan, atau belakang rumah warga pasti ada nisan berukuran besar khas makam Tionghoa.

“Kalau pastinya kapan ada warga menghuni di sini saya kurang tahu, Mas. Yang jelas waktu saya kecil, di sini masih banyak makam, dan belum banyak rumah warga seperti ini. Dulu ya ada rumah, tapi jumlahnya hanya sedikit,” kata Shodikin, Ketua RT 06 RW I, Kelurahan Sendangguwo kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Pria berusia 43 tahun ini mengatakan, tak terhitung berapa luas lahan pemakaman China yang ada di RW I Kelurahan Sendangguwo. Selain Kelurahan Sendangguwo, makam serupa  juga bisa temui di wilayah Kelurahan Kedungmundu.

“Total di RT 06 RW I ini, ada sekitar 35 kepala keluarga (KK). Kalau yang rumahnya berdampingan dengan makam ada lagi di RT 17 dan 16 yang merupakan pemekaran dari RT 06,” ungkapnya.