POTRET KEMISKINAN: Mbah Aspiyah dan Sonah di depan gubuk reyotnya. (kanan) Dinding rumah dari anyaman bambu, dan koordinator Omah Harapan, Haryanto, berbincang dengan Mbah Aspiyah dan Sonah. (WAHIB PRIBADI/IST/JAWA POS RADAR SEMARANG)
POTRET KEMISKINAN: Mbah Aspiyah dan Sonah di depan gubuk reyotnya. (kanan) Dinding rumah dari anyaman bambu, dan koordinator Omah Harapan, Haryanto, berbincang dengan Mbah Aspiyah dan Sonah. (WAHIB PRIBADI/IST/JAWA POS RADAR SEMARANG)
POTRET KEMISKINAN: Mbah Aspiyah dan Sonah di depan gubuk reyotnya. (kanan) Dinding rumah dari anyaman bambu, dan koordinator Omah Harapan, Haryanto, berbincang dengan Mbah Aspiyah dan Sonah. (WAHIB PRIBADI/IST/JAWA POS RADAR SEMARANG)
POTRET KEMISKINAN: Mbah Aspiyah dan Sonah di depan gubuk reyotnya. (kanan) Dinding rumah dari anyaman bambu, dan koordinator Omah Harapan, Haryanto, berbincang dengan Mbah Aspiyah dan Sonah. (WAHIB PRIBADI/IST/JAWA POS RADAR SEMARANG)
DEMAK – Aspiyah dan anaknya, Sonah, dalam beberapa hari ini menjadi trending topic di dunia maya, khususnya Facebook. Dua warga miskin ini menjadi perhatian masyarakat karena keduanya sama-sama sudah menjanda. Selain itu, keduanya tinggal di gubuk reyot berukuran 4×5 meter persegi yang terbuat dari bambu berdinding seadanya.

Yang lebih memprihatinkan, gubuk itu berdiri di atas tanah irigasi alias tanah negara, tepatnya di belakang SDN Kedungkarang yang berada di wilayah Desa Kedungkarang RT 4 RW 1, Kecamatan Wedung.

Tidak ada perabot berharga di gubuk reyot tersebut. Meja dan kamar mandi pun tidak ada. Tempat tidur yang sudah lawas dan tidak nyaman terpaksa digunakan untuk semua anggota keluarga. Rumah tersebut sebenarnya sudah tidak layak ditempati, karena membahayakan penghuninya.

Desa Kedungkarang sendiri berbatasan dengan Desa Kedungmutih dan wilayah Kabupaten Jepara. Jaraknya sekitar 35 km dari Kota Demak. Akses menuju lokasi dapat ditempuh lewat jalan utama Demak-Wedung atau dapat melalui jalan Demak-Mijen-Wedung. Meski kondisi jalan relatif baik, namun jaraknya memang cukup jauh.

Sonah sendiri merupakan anak dari Mbah Aspiyah. Sonah memiliki dua anak yang masih duduk di bangku SD dan Madrasah Tsanawiyah (MTs), yakni Slamet Riyadi, 8, dan Asiyah, 12. Dalam keseharian, Sonah bekerja serabutan. Ini dilakukan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, terutama ibu dan anak-anaknya yang telah lama ditinggal suaminya.

”Kadang-kadang kerja sebagai buruh cuci di rumah tetangga. Upah buruh cuci antara Rp 10 ribu hingga Rp 20 ribu,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang.