”Kebutuhan listriknya menggunakan panel surya. Sedangkan kebutuhan air bersih menggunakan distilasi air laut,” bebernya.

Ketua Tim Riset Sistem Modular Wahana Apung dan Penerapan Teknologi Permukiman Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Dimas Hastama Nugraha, mengatakan, rumah apung di Tambak Lorok Semarang ini merupakan penerapan teknologi pertama di Indonesia. ”Sebelumnya ada teknologi jembatan apung di Cilacap,” katanya.

Dikatakannya, teknologi rumah apung ini sebagai respons atas kondisi tanah di daerah Tambak Lorok yang memiliki perubahan cukup tinggi, yakni mengalami penurunan 11-13 sentimeter per tahun. Sebab, kata dia, warga selama ini harus menguruk tanah secara terus-menerus.

”Hasil riset kami, menyebut selama lima tahun menghabiskan kurang lebih Rp 240 miliar hanya untuk menguruk kawasan ini. Nah, daripada uangnya muspro, maka lebih baik dilakukan uji coba dengan prototipe rumah apung. Keunggulannya proses pembuatannya lebih cepat dan biaya relatif murah,” ujarnya.

Dimas menjelaskan, prototipe balai pertemuan apung ini menghabiskan dana Rp 1 miliar. Luasnya 150 meter persegi, terdiri atas dua lantai, ditambah teras halaman kurang lebih 50 meter persegi. ”Sedangkan jika untuk rumah biasa lebih murah, yakni antara Rp 100 juta hingga Rp 300 juta. Jika ada rob, rumah apung ini akan terapung mengikuti debit air. Ini juga sebagai pameran bagi warga. Biar warga tahu, oh ternyata rumah apung bisa menjadi alternatif,” katanya. 

Teknologi rumah apung ini sebenarnya mengadopsi dari Belanda. Selain itu, juga melibatkan tenaga ahli dari Skotlandia. Sedangkan material beton apung diproduksi di Bandung. ”Ini sifatnya masih riset. Jadi, proses pembangunannya agak lama. Jika lancar-lancar saja, dua bulan selesai. Kemarin ada proses uji dan kendala kekurangan material. Praktis, jadinya agak mundur. Oktober diperkirakan selesai,” ujar Dimas.