RAMAH LINGKUNGAN: Balai pertemuan apung yang sedang dibangun di Tambak Lorok, Semarang Utara. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
RAMAH LINGKUNGAN: Balai pertemuan apung yang sedang dibangun di Tambak Lorok, Semarang Utara. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
RAMAH LINGKUNGAN: Balai pertemuan apung yang sedang dibangun di Tambak Lorok, Semarang Utara. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RAMAH LINGKUNGAN: Balai pertemuan apung yang sedang dibangun di Tambak Lorok, Semarang Utara. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Pilot project untuk menjadikan Kampung Bahari di kawasan Tambak Lorok, Semarang Utara masih terus dikembangkan. Salah satunya uji coba percontohan pembuatan rumah apung yang dikonsep khusus dalam kondisi terapung di atas hamparan air rob. Seperti apa?

ABDUL MUGHIS

TIM peneliti dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) saat ini sedang menyelesaikan contoh atau prototipe balai pertemuan apung berlantai dua di kawasan Tambak Lorok. Jika pilot project ini mulus, nantinya setiap rumah apung akan dibangun dengan perkiraan biaya antara Rp 100 juta hingga Rp 300 juta. 

”Balai apung ini contoh pilot project rencana penyelesaian rumah apung. Nantinya bisa digunakan oleh warga sebagai balai pertemuan. Kondisinya di atas air dan bergerak,” kata Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi kepada Jawa Pos Radar Semarang saat melakukan peninjauan balai apung di kawasan Tambak Lorok Semarang, Senin (29/8).

Jika rumah apung tersebut memang menarik, kata Hendi—sapaan akrab Hendrar Prihadi— maka nantinya akan menjadi alternatif penanganan rob di kawasan Tambak Lorok. Pihaknya akan meminta kepada Kementerian PUPR dan mengalokasikan anggaran APBD Kota Semarang untuk pembuatan rumah apung. ”Nanti bisa digunakan sebagai alternatif untuk mengatasi persoalan kumuh dan rob di wilayah sini,” ujarnya.

Bangunan balai apung ini memiliki dua lantai. Lantai bawah dimanfaatkan sebagai balai pertemuan dan lantai atas sebagai perpustakaan atau rumah baca. Dasar bangunan menggunakan panel foam dan beton (B-foam). Sedangkan konstruksi bangunan menggunakan material baja dan bambu. Konsep prototipe ini mengusung bangunan ramah lingkungan, mandiri dalam kebutuhan energi, dan tidak mencemari lingkungan.