5 Mahasiswa Undip Sabet Juara III Pimnas

Berangkat dari Ketidakpedulian Pemerintah Desa Setempat

334
SABET JUARA: Mahasiswa Ilmu Pemerintahan Universitas Diponegoro sabet juara 3 pimnas kategori poster di Institut Pertanian Bogor (IPB) beberapa waktu lalu. (Sigit/Jawa Pos Radar Semarang)
SABET JUARA: Mahasiswa Ilmu Pemerintahan Universitas Diponegoro sabet juara 3 pimnas kategori poster di Institut Pertanian Bogor (IPB) beberapa waktu lalu. (Sigit/Jawa Pos Radar Semarang)
SABET JUARA: Mahasiswa Ilmu Pemerintahan Universitas Diponegoro sabet juara 3 pimnas kategori poster di Institut Pertanian Bogor (IPB) beberapa waktu lalu. (Sigit/Jawa Pos Radar Semarang)
SABET JUARA: Mahasiswa Ilmu Pemerintahan Universitas Diponegoro sabet juara 3 pimnas kategori poster di Institut Pertanian Bogor (IPB) beberapa waktu lalu. (Sigit/Jawa Pos Radar Semarang)

SEMARANG – Melihat kondisi yang kian memprihatinkan akibat abrasi, 5 mahasiswa Universitas Diponegoro (Undip) dari jurusan Ilmu Pemerintahan ajukan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) untuk atasi permasalahan tersebut. Bahkan PKM yang diajukan, berhasil menyabet juara 3 kategori poster pada Pekan Ilmiah Nasional (pimnas) yang dihelat di ITB beberapa waktu lalu.

Kelima mahasiswa ini adalah, Danny Widodo Uji Prakoso, Wahyu Kurniawan, M. Khanif Hermawan, Azmi Anti Mutiah, dan Nawangsih Sekarwidhi. Mereka mengajak masyarakat Kertomulyo, Trangkil, Pati, untuk menanam mangrove sebagai upaya mengurangi dampak abrasi air laut. Mereka melakukannya dengan 3 tahapan. Menyosialisasikan, menanam, dan mengajarkan cara perawatan.

Karena berasal dari ilmu pemerintahan, mereka juga mencoba berkomunikasi dengan pemerintah desa setempat untuk lebih peduli dengan persoalan tersebut. Mereka berharap pemerintah desa bisa membuat kebijaan mengenai anggaran khusus bagi perawatan mangrove untuk mencegah abrasi. ”Kami juga mendorong pemerintah desa setempat agar mengalokasikan dana untuk perawatan mangrove yang telah ditanam. Karena kondisinya sudah sangat memprihatinkan,” ujar Sekar, salah satu anggota tim.

Komunikasi dengan pemerintah desa dilakukan karena mereka menilai pemerintah desa setempat masih terkesan abai terhadap persoalan tersbut. ”Abrasinya sudah sampai menggerus ke permukiman warga, sudah banyak yang mengeluhkan juga. Tapi seperti tidak ada respons dari pemerintahnya,” imbuh Sekar.

Padahal, menurutnya, sudah banyak warga yang mengeluhkan kondisi tersebut. Banyak warga yang mengeluhkan rusaknya tambak milik mereka hingga kesulitan untuk mencari ikan akibat abrasi air laut. Atas kemenangannya ini, mereka turut andil membawa almamaternya menduduki peringkat 9 pada pimnas ke-29 di IPB tahun ini. (mg4/zal/ce1)