”Janji Palsu” Kartu Indonesia Pintar (KIP): Sudah Pegang Kartu, Tak Bisa Dicairkan

479
MENOLONG WARGA MISKIN: Antrean warga Kebonharjo RT 13 RW 9 saat mengambil Kartu Indonesia Pintar di Kelurahan Tanjung Mas, Semarang Utara, Minggu (14/8) lalu. (NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
MENOLONG WARGA MISKIN: Antrean warga Kebonharjo RT 13 RW 9 saat mengambil Kartu Indonesia Pintar di Kelurahan Tanjung Mas, Semarang Utara, Minggu (14/8) lalu. (NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
MENOLONG WARGA MISKIN: Antrean warga Kebonharjo RT 13 RW 9 saat mengambil Kartu Indonesia Pintar di Kelurahan Tanjung Mas, Semarang Utara, Minggu (14/8) lalu. (NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)

MENOLONG WARGA MISKIN: Antrean warga Kebonharjo RT 13 RW 9 saat mengambil Kartu Indonesia Pintar di Kelurahan Tanjung Mas, Semarang Utara, Minggu (14/8) lalu. (NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Presiden Joko Widodo (Jokowi) selalu menggembar-gemborkan Kartu Indonesia Pintar (KIP). Di setiap tatap muka dengan warga di permukiman miskin, dia selalu membagikan kartu tersebut. Kartu ini juga sudah didistribusikan kepada sejumlah warga di Kota Semarang. Namun praktik di lapangan, ternyata KIP tak bisa dicairkan uang. Lho kok bisa?

INDRA Lestari, 44, warga Jalan Tugu Lapangan RT 09 RW 01, Kelurahan Tambakaji, Kecamatan Ngaliyan, sudah mendapatkan Kartu Indonesia Pintar (KIP) sejak beberapa bulan lalu. Dia sangat berharap, dengan kartu tersebut, dirinya akan mendapatkan dana untuk biaya kebutuhan sekolah anaknya. Seperti membeli seragam, sepatu, tas, buku dan sebagainya. Namun apa yang terjadi? Ternyata saat akan dicairkan uang untuk membeli kebutuhan sekolah anaknya, KIP tidak bisa digunakan.

”Kartu itu ketika akan dicairkan uang di Kantor Pos, pihak Kantor Pos tidak tahu. Ini kan aneh, terus kartu itu sebenarnya buat apa? Jangan hanya janji-janji palsu saja,” kata Lestari sedikit mangkel.

Lestari mengaku awalnya sangat senang saat menerima KIP. Tetapi setelah tahu tidak bisa dicairkan, dia hanya bisa pasrah dengan keadaan. Ia sempat mendatangi Kantor Kelurahan Tambakaji. Namun jawaban petugas kelurahan setali tiga uang alias sama. Dia juga tidak mengetahui cara mencairkan Kartu Indonesia Pintar tersebut.

”Saya tidak tahun masalah itu (Kartu Indonesia Pintar). Coba tanyakan saja ke Kantor Pos atau BRI,” ujar Lestari menirukan ucapan petugas Kelurahan Tambakaji

Warga lainnya, Wartumi juga mengalami nasib serupa. Kartu Indonesia Pintar yang dimiliki juga belum bisa dicairkan. Ia terpaksa membeli perlengkapan sekolah anaknya dengan uang sendiri. ”Kami masih menunggu pencairan dana untuk sekolah dari Kartu Indonesia Pintar, sebab dana itu sangat membantu kami,” katanya.