KONI Jateng “Gantung” Lima Atlet

369
TAK BETAH: Salah satu atlet Jateng yang berniat membela ke provinsi lain di PON 2016 yakni Toni Mamiri. (BASKORO S/JAWA POS RADAR SEMARANG)
TAK BETAH: Salah satu atlet Jateng yang berniat membela ke provinsi lain di PON 2016 yakni Toni Mamiri. (BASKORO S/JAWA POS RADAR SEMARANG)
TAK BETAH: Salah satu atlet Jateng yang berniat membela ke provinsi lain di PON 2016 yakni Toni Mamiri. (BASKORO S/JAWA POS RADAR SEMARANG)
TAK BETAH: Salah satu atlet Jateng yang berniat membela ke provinsi lain di PON 2016 yakni Toni Mamiri. (BASKORO S/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG – KONI Jateng tidak begitu saja melepas atlet-atletnya yang berniat hengkang dan membela provinsi lain di PON XIX/2016. Ada lima atlet asal Jateng dianggap masih belum sah untuk membela provinsi lain di ajang multievent olahraga empat tahunan tersebut, yakni Imam Tauhid (karate), Toni Mamiri (panjang tebing), serta tiga atlet bridge wanita Kristina Wahyu, Suci Amita Dewi dan Rury Andyani.

Toni Mamiri dan Imam Tauhid memutuskan pindah ke Jabar. Kemudian tiga atlet bridge Jateng memutuskan hijrah ke DKI Jakarta. KONI Jateng berusaha mempertahankan lima atlet tersebut dan membawa sengketa upaya perpindahan atlet tersebut ke Badan Arbitrase Olahraga Republik Indonesia (Baori).

Namun Ketua KONI Jateng, Hartono mengatakan, lembaga yang berwenang memutuskan sengketa atlet yakni Baori hingga saat ini masih belum mengesahkan dua atlet tersebut untuk membela provinsi yang mereka inginkan. “Atlet yang ingin membela provinsi lain di PON tidak cukup hanya dengan mengganti KTP,” tandas Hartono.

Kalau Jabar dan DKI Jakarta tetap berniat mendaftarkan atlet tersebut di PON 2016, maka Jateng akan berupaya keras memprotesnya. Bahkan Jateng berniat untuk “menggantung” dua atlet tersebut agar tidak bisa membela provinsi manapun di PON 2016 September mendatang. “Kami minta tim hukum KONI Jateng bekerja keras di PON nanti, terkait dengan lima atlet tersebut. Kami sudah siapkan semua bukti,” kata Hartono.

Sejumlah atlet memang diinformasikan berpotensi gagal bertanding di PON 2016, lantaran didaftarkan oleh dua kontingen sehingga statusnya bermasalah. Atlet-atlet tersebut terancam tidak bisa bertanding di PON Jabar. Hal itu diketahui dalam Delegate Registration Meeting (DRM) yang digelar PB PON dan diikuti oleh perwakilan dari 34 kontingen, dewan hakim, technical celegate, tim keabsahan, KONI Pusat serta dari PB PON sendiri. (bas/smu)