SEMARANG – Profesi modin tentu sangat dekat dengan masyarakat. Mulai mengurus jenazah, pernikahan, hingga berbagai urusan keagamaan. Namun demikian, honor modin di Kota Semarang saat ini masih sangat menyedihkan. Mereka hanya mendapat honor Rp 250 ribu per bulan dari Pemkot Semarang. Tentu hal ini sangat memprihatinkan mengingat para modin bekerja 24 jam untuk melayani masyarakat.

”Kami hanya mendapatkan uang transpor Rp 250 ribu per bulan, ya ngenes memang,” kata Ketua Kelompok Modin se-Kota Semarang, Masykur, kepada Jawa Pos Radar Semarang, Selasa (23/8).

Dia mengaku, sejauh ini menjalani profesi ini dengan ikhlas demi melayani masyarakat, meski harus siaga 24 jam. Namun demikian, ia berharap agar pemerintah memperhatikan kesejahteraan para modin. ”Kalau ditanya harapan, ya kami berharap agar honor modin bisa disetarakan dengan upah minimun kota (UMK),” harapnya.

Dikatakannya, saat ini jumlah modin di Kota Semarang sebanyak 270 orang. Terbagi dua kriteria, yakni modin yang merangkap sebagai perangkat kelurahan dan modin yang hanya menangani kematian. ”Dari 270 modin, 150 modin di antaranya aktif merangkap sebagai perangkat kelurahan yang tidak hanya bertugas menangani kematian, tetapi juga membantu urusan pernikahan,” katanya.

Ia mengakui, tanggung jawab modin sangat berat dan tidak semua orang mampu menjalankannya. Sebab, tidak hanya siaga selama 24 jam, namun juga harus sanggup menjadi tokoh panutan dan memberi contoh kepada masyarakat. Apalagi harus memiliki keahlian khusus, mulai mengurusi jenazah hingga membantu urusan pernikahan. Meski demikian, hal ini, menurutnya, merupakan tugas mulia demi melayani masyarakat.

”Kalau soal honor, di Semarang masih kalah dengan daerah lain seperti Demak dan Jepara yang honornya setara UMK. Di sana modin dapat tanah bengkok. Bagi yang merangkap menjadi aparat desa juga dapat honor setara dengan UMK. Selain itu juga dapat jaminan kartu sehat,” ujarnya.