Berdasarkan profil sejarah desa tersebut, bahwa yang berperan membuka permukiman wilayah (babat alas) atau cikal bakal adanya Desa Bungo ini adalah sosok Nalendro yang bernama Simbah Panji Kusumo. Ia berasal dari Kediri, Jawa Timur. Dia tercatat sebagai putra seorang raja di Kediri dari istri selir. Ketika Kerajaan Kediri diserang oleh Gelang-Gelang, ia diminta keluarganya untuk berkelana meninggalkan kerajaan dan mencari tanah perdikan yang berada di Selat Muria Jateng. ”Hingga kemudian sampailah yang bersangkutan di Desa Bungo,” jelasnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Budi Joko Nugroho menuturkan, Desa Bungo dulunya berupa hutan belantara yang penuh dengan tetumbuhan dan hewan buas. Juga banyak sekali makhluk gaib berperangai jahat yang menghuni wilayah ini. Dengan keilmuan serta tirakat memohon kepada Allah SWT, Mbah Panji Kusumo mulai membabat alas, mengawali terbentuknya dari sebuah hutan belantara menjadi kawasan hunian perdikan bernama Bungo.

”Tanah daerah ini yang dikenal subur dan luas diharapkan menjadikan masyarakatnya hidup dalam kebahagiaan dan kemakmuran. Kultur budaya agamisnya sangat kuat khas pesisir,” ujarnya didampingi panitia kirab, Shodiqin, SS dan tokoh budaya Desa Bungo, Muslimin.

Lebih lanjut diterangkan, di dalam lelaku tirakatnya itu, Mbah Panji Kusumo menyamar sebagai sosok yang mencari ikan sembari membawa alat cundrik. Lantaran ini bagian dari topo broto (bertapa dengan laku prihatin), maka ia sering merendamkan diri ke sungai dan naik ke pinggir Kali Krubyak Krubyuk. Itu dilakukan berkali-kali sambil berpuasa menahan rasa haus dan lapar.