Budi Joko Nugroho (WAHIB PRIBADI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
Budi Joko Nugroho (WAHIB PRIBADI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Budi Joko Nugroho (WAHIB PRIBADI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
Budi Joko Nugroho (WAHIB PRIBADI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Kirab budaya Panji Kusuman dan Apitan Wayangan telah menjadi tradisi bagi masyarakat Desa Bungo, Kecamatan Wedung, Kabupaten Demak. Bahkan, tradisi itu kini menjadi suguhan wisata dan kearifan lokal yang menarik bagi pengunjung. Seperti apa?

WAHIB PRIBADI, Demak

HARI ini, Rabu (24/8) tradisi itu kembali digelar. Kirab dimulai pukul 07.30 sampai selesai. Sedangkan Apitan Wayangan dilaksanakan mulai pukul 13.00 hingga semalam suntuk. Semua elemen masyarakat turut berpartisipasi dalam puncak event tahunan ini. Kirab diikuti unsur pemerintah Desa Bungo, BPD, LKMD, karang taruna, tokoh agama dan masyarakat. Juga unsur RT, RW, pelajar, petani, serta nelayan. Total peserta ada 750 orang.

Kirab tersebut juga ditonton semua warga Desa Bungo. Adapun rute kirab start dari balai desa menuju makam Pepunden Waliyullah Mbah Panji Kusumo dilanjutkan selamatan yang diikuti peserta kirab dan segenap warga Desa Bungo. Tradisi tersebut merupakan cermin kultur abadi bagi Desa Bungo.

Penjabat Kepala Desa (Pj Kades) Desa Bungo, Budi Joko Nugroho SSos MM menjelaskan, ditilik dari perspektif sejarah, Desa Bungo berasal dari kata ”Bunga Ho”. Yang berarti, bersyukurlah atau berbahagialah. Setidaknya ini sangat beralasan, karena secara geografis kampung di pesisir pantai utara Demak ini merupakan salah satu jalur pusat perekonomian di Kecamatan Wedung. Desa ini juga dekat dengan wilayah perbatasan Kabupaten Jepara. Desa yang berpenduduk sekitar 5.700 jiwa ini, rata-rata warganya bekerja sebagai nelayan, petani dan berdagang.