50 Persen Nelayan Tambaklorok Melaut tanpa Jaket Pelampung

180
M. HARIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG
KURANG AMAN: Nelayan Tambaklorok biasa melaut tanpa mengenakan jaket pelampung.

TAMBAKLOROK – Life jacket atau jaket pelampung merupakan peranti wajib di setiap kapal. Entah itu kapal niaga atau nelayan. Sayang, kesadaran pemilik kapal masih kurang. Sehingga ketika terjadi kecelakaan di tengah laut, banyak korban yang mati tenggelam.

Para nelayan Tambaklorok, Semarang Utara misalnya. Meski telah mendapat bantuan jaket pelampung dari pemerintah, namun belum semua nelayan menggunakan alat keselamatan tersebut ketika melaut. Bahkan, dari sekitar 700 nelayan yang ada di kampung ini, hanya separo yang melengkapi diri dengan jaket pelampung.

Banyak alasan para nelayan tidak menggunakan alat pelampung ketika melaut. Salah satunya, nelayan tidak leluasa saat memakai alat tersebut ketika beraktivitas.

”Ada yang bawa, ada yang tidak. Paling hanya 50 persen yang pakai. Sebab, kalau pas beraktivitas memakai akan sulit. Misalnya, pas narik jaring atau apa kan pelampung itu tebal, jadi tidak leluasa,” ungkap Hisam, salah satu nelayan RT 4 RW 15 Tambaklorok, kepada Jawa Pos Radar Semarang, Selasa (23/8).

Hisam mengatakan, sebenarnya nelayan Tambaklorok telah mendapatkan bantuan jaket pelampung dari pemerintah beberapa hari lalu. ”Kemarin ada bantuan 1.000 pelampung dari Pak Kapolri. Di sini ada sekitar 700 perahu, semua kebagian pelampung. Namun tidak semuanya dipakai melaut,” katanya.