Tanamkan Nasionalisme pada Santri

251
Ahsan fauzi/radar kedu BERSARUNG: Uapacara bendera peringatan HUT ke-71 Kemerdekaan RI yang digelar Ponpes Miftakhul Mubtadi’in Montessori Temanggung.
Ahsan fauzi/radar kedu
BERSARUNG: Uapacara bendera peringatan HUT ke-71 Kemerdekaan RI yang digelar Ponpes Miftakhul Mubtadi’in Montessori Temanggung.
TEMANGGUNG- Banyak cara dilakukan untuk memperingati HUT ke-71 Kemerdekaan RI. Pondok Pesantren (Ponpes) Miftakhul Mubtadi’in Montessori yang berlokasi di Dusun Pringtali, Desa Kemiri, Kaloran Temanggung juga tak mau ketinggalan.
Pesantren di bawah asuhan K Muta’ib itu juga menggelar upacara layaknya upacara bendera kenegaraan. Upacara dilangsungkan Selasa (16/8) malam.
Bertindak sebagai inspektur upacara adalah lurah pondok setempat Muh Sodiq. Dalam amanatnya, Sodiq meminta kepada para santri untuk belajar sungguh-sungguh. “Santri harus terus semangat dalam belajar, berdoa dan berikhtiar. Saya yakin, kalian kelak menjadi orang hebat,” ucapnya.
Sodiq juga menjelaskan, perjuangan para pahlawan negeri ini yang bisa membawa kemerdekaan, banyak yang berlatar belakang ulama. Seperti KH Hasyim Asyari dan HOS Tjokroaminoto yang patut diteladani oleh santri. Ia juga menegaskan, santri harus mempunyai wawasan kebangsaan dan nasionalisme. “NKRI harga mati,” pekiknya di hadapan para ustad dan ratusan santri.
Ketua panitia rangkain HUT RI Ponpes Miftakhul Mubtadi’in Montessori 2016 Muhammad Rosyid membeber, di pondoknya, tiap hari besar nasional selalu mengadakan upacara bendera. Seperti peringatan Hari Kartini, Hari Pahlawan dan HUT Kemerdekaan. “Untuk upacara peringatan HUT RI tahun ini, merupakan yang ketiga. Diikuti 200 santriwan dan santriwati. Tahun-tahun sebelumnya memang kita sudah menggelar upacara serupa, tapi tak sekhidmat dan sesakral tahun ini,” akunya.
Ketua Yayasan Miftakhul Mubtadi’in Montessori Muhlasin Abrory mengaku, pihaknya menekankan nasionalisme dan patriotisme kepada para santri. “Kita tanamkan sedini mungkin wawasan kebangsaan. Santri harus punya talenta dan harus bisa berprestasi,” harapnya.
Sementara itu, M Ilzam Pandu Al Faqih santri asal Jambu, Bedono, Semarang mengaku, mengambil hikmah dari upacara yang digelar di pondoknya tersebut. “Dari upacara ini saya bisa mengambil hikmahnya akan pentingnya kedisiplinan. Di pesanten ini, juga ditanamkan untuk selalu disiplin serta menjunjung tinggi kebersamaan,” ungkapnya. (san/sct/ton)