“Melalui aksi ini kita ingin menarik perhatian berbagai dinas dan Pemkab Semarang atas kejenuhan kita menunggu eksekusi pedagang liar yang di luar untuk ditertibkan,” lanjutnya.

Dikatakan Esin, sebelumnya Bupati Semarang Mundjirin pernah juga berjanji akan menuntaskan permasalahan tersebut. “Namun janji ya tinggal janji,” katanya. Keberadaan para pedagang liar yang berjualan di area parkir juga membuat omzet pedagang pujasera menjadi turun drastis. Dimana biasanya dalam sehari, sebelum adanya pedagang liar para pedagang pujasera bisa mengantongi untung Rp 400 ribu, kini hanya Rp 100 ribu. Itupun saat hari libur.

Ironisnya, karena lokasi belakang pujasera yang semakin sepi kini area tersebut justru dimanfaatkan oleh beberapa orang untuk mabuk-mabukan. “Bahkan transaksi prostitusi, dan tidak jarang dari pemabuk juga membuat onar. Kita terus terang sudah tidak tahan dengan hal tersebut,” tuturnya.

Salahsatu penjual roti bakar di Pujasera, Kukuh, 37, menyayangkan ketidakseriusan Pemkab Semarang dalam menangani permasalahan yang dialami oleh pedagang. “Sudah bertahun-tahun masalah ini didiamkan oleh Pemkab, bahkan Disperindag juga tidak bisa berbuat apa-apa,” tuturnya.

Ia berharap, Pemkab Semarang segera menyelesaikan polemik yang terjadi pada para pedagang di Alun-Alun Bung Karno tersebut. “Kami sekarang jarang laku, makannya sebagai bentuk protes semua gerobag pedagang di pujasera di taruh di area parkir depan. Agar para pedagang liar tersebut tidak berjualan di lokasi itu,” katanya. (ewb/zal)