DICEK ULANG: Petugas appraisal saat meninjau rumah warga RT 05 RW 04 Purwoyoso, Senin (15/8) (Sigit Andrianto/ Jawa Pos Radar Semarang)
DICEK ULANG: Petugas appraisal saat meninjau rumah warga RT 05 RW 04 Purwoyoso, Senin (15/8) (Sigit Andrianto/ Jawa Pos Radar Semarang)

TOL SEMARANG-BATANG

DICEK ULANG: Petugas appraisal saat meninjau rumah warga RT 05 RW 04 Purwoyoso, Senin (15/8) (Sigit Andrianto/ Jawa Pos Radar Semarang)
DICEK ULANG: Petugas appraisal saat meninjau rumah warga RT 05 RW 04 Purwoyoso, Senin (15/8) (Sigit Andrianto/ Jawa Pos Radar Semarang)

NGALIYAN- Warga RT 05 RW 04 Purwoyoso, Ngaliyan bisa sedikit lega. Pasalnya, Senin (15/8) kemarin, tim appraisal mendatangi rumah mereka untuk mencocokkan komplain yang disampaikan sebelumnya. Dengan kedatangan tim ini, warga tinggal menunggu pencairan dana ganti untung setelah semua data dinilai sesuai.

Tiga petugas appraisal datang untuk melakukan cross check data yang dimasukkan setelah komplain warga beberapa waktu lalu. Sejumlah warga saat komplain memasukkan data usaha, seperti rumah kos, di mana sebelumnya hanya ditulis rumah saja yang masuk dalam pendataan.

Ketua RT 05 RW 04, Agus Suwandono, mengatakan, tim appraisal datang untuk menentukan harga, yang selanjutnya warga dapat menunggu undangan negosiasi dengan Badan Pertanahan Nasional (BPN) jika memang harganya belum sesuai. ”Setelah pemanggilan nanti, ada jeda 14 hari untuk negosiasi,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Sedikitnya 53 rumah yang ditinjau tim independen ini untuk menentukan harga ganti rugi atas tanah dan bangunan yang terkena proyek jalan tol Semarang-Batang II.

Hardianto, salah satu warga setempat, mengatakan, meskipun telah mendapatkan kepastian ganti untung, dirinya mengaku berat untuk meninggalkan kampung halamannya. Ia tidak yakin akan mendapatkan tempat seperti yang dia tinggali sekarang.

”Harga rumah dan lainnya sekarang tinggi, apakah bisa mendapatkan rumah yang setidaknya seperti yang sekarang ini. Selain itu, di sini sudah nyaman dengan warga lainnya,” ujarnya.

Widiyantoro, warga lainnya mengaku merasa bingung. Sebelumnya ia melakukan komplain mengenai ketidaksesuaian bangunan talut yang dibangun oleh warga, yang kemudian dijanjikan akan ditinjau oleh petugas. ”Dulu katanya mau dilihat dulu, tapi ini kok belum meski tim appraisal sudah datang,” keluhnya. (mg4/aro)