ANAK JALANAN: Para anak jalanan mendapat pembinaan oleh relawan Rumah Pengentasan Yayasan Emas Indonesia di Tugu Muda. (ISTIMEWA)
ANAK JALANAN: Para anak jalanan mendapat pembinaan oleh relawan Rumah Pengentasan Yayasan Emas Indonesia di Tugu Muda. (ISTIMEWA)
ANAK JALANAN: Para anak jalanan mendapat pembinaan oleh relawan Rumah Pengentasan Yayasan Emas Indonesia di Tugu Muda. (ISTIMEWA)
ANAK JALANAN: Para anak jalanan mendapat pembinaan oleh relawan Rumah Pengentasan Yayasan Emas Indonesia di Tugu Muda. (ISTIMEWA)

SEMARANG – Kota Semarang ”banjir” pengemis, gelandangan, orang telantar (PGOT) serta anak jalanan (anjal) bukan isapan jempol. Hampir di setiap traffic light di Kota Atlas dapat dijumpai anjal serta gelandangan dan pengemis (gepeng). Mereka berkedok jualan koran maupun pengamen. Ironisnya, anak-anak itu ’bekerja’ di jalanan diawasi oleh orang tuanya. Tak hanya itu, hampir setiap pagi terdapat mobil pikap L-300 yang ngedrop para pengemis dan anak jalanan di seputaran Tugu Muda.

Pengamatan Jawa Pos Radar Semarang di traffic light perempatan Jalan RA Kartini-Jalan dr Cipto, dekat kantor Dinas Pasar, terdapat dua anak jalanan yang hampir setiap hari berjualan koran. Selama berjualan, dua bocah ini ditunggui orang tua masing-masing di tempat yang teduh.

Saat anaknya bermandi keringat di bawah terik matahari yang menyengat, ayahnya justru menunggu di tempat teduh sambil asyik merokok. Sesekali sang ayah meneriaki anaknya yang asyik main dengan teman kecil sesama penjual koran lainnya. ”Ayo ndang dodolan, ojo dolanan wae! (Ayo jualan jangan main saja),” teriak sang ayah.

Mobil demi mobil yang berhenti selama traffic light menyala merah dihampiri dua bocah ini secara bergantian. Terkadang keduanya terlibat adu mulut, karena salah satu dari mereka mendapat uang lebih dari pengguna jalan.