Print

SEMARANG – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jateng berencana melakukan pengadaan belanja drone. Pesawat kecil tanpa awak ini akan dimanfaatkan untuk memetakan daerah rawan bencana.

Kepala Pelaksana Harian BPBD Jateng, Sarwa Pramana, mengatakan, untuk membeli satu unit drone, setidaknya butuh Rp 20 juta. Saat ini, pihaknya tengah menginventarisasi berapa jumlah drone yang dibutuhkan untuk memantau seluruh daerah di Jateng. Sebab, setiap kabupaten/kota memiliki kebutuhan yang berbeda.

”Ada yang butuh 1 unit, ada juga yang lebih. Kami cari drone yang murah tapi spesifikasinya memadai. Anggarannya nanti minta dari pusat,” bebernya.

Sarwa mencontohkan, drone bisa dimanfaatkan untuk mengidentifikasi daerah yang diprediksi mengalami kekeringan pada musim kemarau mendatang. Alat ini juga bisa digunakan untuk memantau titik-titik sumber air terdekat yang bisa digunakan untuk menyuplai daerah kekeringan.

Hasil pemetaan dari udara itu akan menjadi bahan perencanaan pipanisasi atau sumur. Cara ini dinilai lebih mudah daripada mencari mata air dari darat. ”Sumber air terdekat memang butuh dipetakan. Jadi, nanti tidak ada sistem dropping air, karena tidak efektif,” cetusnya.

Di awal semester 2, BPBD Jateng tengah konsentrasi menghadapi musim kemarau. Sebab, dari prediksi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), musim kemarau basah akan berakhir pada bulan ini. Sarwa pun mengimbau kepada warga di wilayah Kabupaten Wonogiri, Klaten, dan Boyolali untuk memanen air hujan.

”Mumpung masih ada hujan, sebaiknya air hujannya ditampung dulu. Bisa di drum atau wadah lain. Soalnya, tiga daerah itu rawan kekeringan di musim kemarau,” katanya.

Sebelumnya, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo mengajak masyarakat di daerah yang rawan kekeringan untuk menabung air hujan sebagai persiapan menghadapi musim kemarau. Di daerah-daerah yang masih hujan karena kemarau basah ini agar masyarakatnya menabung air hujan supaya nanti bisa panen air saat terjadi kekeringan pada musim kemarau.

Cara menabung air hujan cukup mudah. Yakni, air hujan yang diperkirakan masih turun di akhir Juli hingga Agustus 2016 ditampung ke bak penampungan atau drum. ”Nanti airnya bisa digunakan untuk berbagai keperluan pada kemarau. Saya juga meminta Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) Jateng untuk mengecek ketersediaan embung-embung untuk menampung air hujan,” ujarnya. (amh/aro/ce1)