HALTE SEDERHANA: Aktivitas penumpang di shelter BRT Trans Semarang di Jalan Teuku Umar Semarang yang kondisinya sangat minimalis, Minggu (24/7) kemarin. (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
HALTE SEDERHANA: Aktivitas penumpang di shelter BRT Trans Semarang di Jalan Teuku Umar Semarang yang kondisinya sangat minimalis, Minggu (24/7) kemarin. (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
HALTE SEDERHANA: Aktivitas penumpang di shelter BRT Trans Semarang di Jalan Teuku Umar Semarang yang kondisinya sangat minimalis, Minggu (24/7) kemarin. (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
HALTE SEDERHANA: Aktivitas penumpang di shelter BRT Trans Semarang di Jalan Teuku Umar Semarang yang kondisinya sangat minimalis, Minggu (24/7) kemarin. (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Fasilitas Bus Rapit Transit (BRT) Trans Semarang dinilai belum maksimal. Selain penggunaan pembayaran tiket masih manual, segi pengawasan masih kurang. Bahkan hampir semua bus belum dilengkapi alat rekam CCTV. Termasuk ruang tunggu penumpang atau halte juga masih belum cukup menampung calon penumpang.

HALTE di depan Stasiun Kereta Api (KA) Tawang yang dilalui Bus Rapit Transit (BRT) Trans Semarang koridor IV rute Cangkiran-Stasiun Tawang, tidak begitu dipadati penumpang. Halte berukuran lebar 2 meter dan panjang sekitar 5 meter masih longgar. Sedangkan beberapa armada BRT Trans Semarang terlihat berjajar di samping halte mengantre pemberangkatan. Dari tampilan luar armada BRT, terlihat ban roda bagian belakang kurang layak pakai lantaran sudah menipis.

Salah seorang sopir BRT yang enggan disebutkan namanya mengaku BRT sangat diminati masyarakat, sehingga penumpang BRT koridor IV sangat banyak. Bahkan, semakin hari mengalami perkembangannya yang baik dan maju. Sebagian besar penumpangnya dari kalangan karyawan dan pelajar. ”Banyak penumpang dari kalangan menengah bawah dan karyawan. Tarifnya tetap sama, umum Rp 3.500 dan pelajar Rp 1.000,” ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Semarang, Minggu (24/7) kemarin.

Diakuinya, koridor IV jurusan Cangkiran-Stasiun Tawang terdapat 18 unit armada. Di atas atau wilayah Cangkiran terdapat 12 unit dan di bawah atau pangkalan Damri sebanyak 6 unit. Sedangkan jam awal keberangkatan untuk hari kerja mulai pukul 05.30 hingga 20.00.

”Kalau hari libur mulai pukul 05.45. Setiap keberangkatan bus dari halte, jedanya paling 10 menitan. Tapi kalau kondisi jalan macet, paling lama sekitar 15 menit,” katanya.

Ketika memasuki armada BRT koridor IV, ternyata tidak dilengkapi alat perekam atau closed-circuit television (CCTV) di dalamnya. Namun bus tersebut dilengkapi fasilitas AC. ”CCTV tidak ada,” tandasnya.

Kendati begitu, pihaknya meyakinkan keamanan naik armada BRT. Itu dibuktikan, pernah ada kejadian orang kecopetan, cepat tertangkap pelakunya. ”Kami memiliki tenaga keamanan orang jalanan yang mengerti dan hafal para copet. Jadi kalau ada copet, pasti tertangkap. Penumpang ini dibedakan, perempuan bagian depan, laki-laki bagian belakang,” ujarnya.

Terkait awak pengoperasionalan BRT, baik sopir, Petugas Tiket Armada (PTA) di dalam bus dilakukan oleh pihak ketiga atau Perseroan Terbatas (PT) di luar Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informasi (Dishubkominfo) Kota Semarang. Jumlah sopir sama dengan jumlah armada bus BRT yakni 18 orang dengan sistem kerja 2 hari kerja dan satu hari libur.

”Sedangkan petugas PTA terdapat 36 orang terbagi 2 sif, siang dan malam. Kalau jumlah tempat duduk 27 tempat, berdiri 26, sesuai standar. Ya tergantung juga kalau yang berdiri gemuk-gemuk, ya tidak sampai segitu. Ini informasinya, BRT koridor IV akan ditambah 6 bus lagi,” jelasnya.

Menanggapi terkait perawatan armada BRT, dikatakan hal itu dilakukan pihak ketiga. Perusahaan tersebut sudah memiliki bengkel sendiri, termasuk bengkel dinamo, bengkel AC dan bodi. Armada BRT ini setiap hari dilakukan perawatan rutin setiap selesai operasional.

”Dibersihkan, dicuci, dilap kacanya. Jadi tetap dikontrol terus. Kontrol accu mesin sama ban tiap hari. Kalau dihitung sana-sini (Cangkiran-Tawang) 30 km, setiap bus 4 pulang pergi (PP) jadi 8 rit. Per hari 240 km kali 15 hari. Sekitar 1 bulan ganti oli,” jelasnya.

Namun demikian, pihaknya masih mengeluhkan terkait gaji yang diterima para sopir yang dinilai masih belum layak atau masih standar Upah Minimum Regional (UMR) Kota Semarang. Menurutnya, kerja sebagai sopir sangatlah berisiko tinggi ketika di jalan. ”Antara risiko sama pekerjaan besar, gaji UMR. Kami berharap ada kenaikan,” harapnya.

Sementara itu, salah satu petugas PTA Koridor IV, Indra Ayu mengakui BRT jurusan Cangkiran-Tawang belum ada CCTV di dalamnya. Selain itu, halte untuk menunggu kedatangan bus juga belum terpasang CCTV. ”Kalau tiap bus, sudah pakai AC. Halte transit yang pakai CCTV ya hanya di Jalan Pemuda, depan kantor Dinas Pariwisata sama depan SMAN 5 Semarang,” katanya.

Menurutnya, setiap hari rata-rata penumpang dalam satu armada BRT mencapai 40 penumpang. Sedangkan tarif juga tidak mengalami kenaikan atau masih tetap, pelajar Rp 1.000 dan umum Rp 3.500.
”Pakai kartu juga bisa, nanti dideteksi oleh alat mesin kartu. Kalau saldonya habis ya tidak bisa dipakai. Biasanya yang umum minimal 10 kali putaran, kalau pelajar paling Rp 10 ribu,” terangnya.

Sementara, salah satu penumpang warga asal Ungaran, Sartini mengakui adanya BRT memudahkan warga yang tidak memiliki kendaraan. Pihaknya berharap, ke depan pemerintah segera menambah armada BRT rute lain yang belum tersentuh transportasi umum.

”Ya harus ditambah. Kasihan masyarakat yang tempat tinggalnya tidak ada armada transportasinya. Malah kesusahan kalau pergi-pergi. Tarifnya juga jangan mahal-mahal, kalau bisa gak usah dinaikkan,” katanya.

Sementara itu, anak Sartini menambahkan bahwa pelayanan BRT selama ini dinilai kurang memuaskan. ”Kurang memuaskan, sebab kalau kita naik pasti disuruh-suruh ke belakang. Padahal sudah penuh,” kata pelajar yang enggan disebutkan namanya. (mha/ida/ce1)