Umat Teladani Dewi Welas Asih

297
KHUSYUK: Umat TITD Kelenteng Low Lie Bio (Kelenteng Kebun Jeruk) membaca parita suci dan melakukan pradaksina di akhir acara. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
KHUSYUK: Umat TITD Kelenteng Low Lie Bio (Kelenteng Kebun Jeruk) membaca parita suci dan melakukan pradaksina di akhir acara. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
KHUSYUK: Umat TITD Kelenteng Low Lie Bio (Kelenteng Kebun Jeruk) membaca parita suci dan melakukan pradaksina di akhir acara. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
KHUSYUK: Umat TITD Kelenteng Low Lie Bio (Kelenteng Kebun Jeruk) membaca parita suci dan melakukan pradaksina di akhir acara. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

MANYARAN – Peringatan hari kesempurnaan Dewi Welas Asih atau Dewi Kwam Se Im Po Sat, Kamis (21/7) malam berlangsung khidmat. Acara yang digelar di Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) Low Lie Bio (Kelenteng Kebun Jeruk) Jalan Rorojonggrang Timur XIII/10 Manyaran diikuti umat dari berbagai daerah.

Ritual diawali dengan pembacaan ayat-ayat suci dipimpin oleh Pandita Dhama Amaro diikuti oleh para umat, pengurus Yayasan Cia dan Hu Lo Cu (abdi kelenteng). Pada kesempatan ini dipanjatkan doa-doa khusus untuk bangsa Indonesia agar dijauhkan dari segala bencana. Peringatan hari kesempurnaan yang suci Kwan Se Im Po Sat selalu diperingati tanggal 19 bulan 6 Imlek atau tahun ini bertepatan pada 21 Juli 2016.

Ketua Umum Yayasan Kelenteng Kebun Jeruk Indra Satya Hadinata menjelaskan, selain memperingati hari di mana Dewi Welas Asih mencapai kesempurnaan, juga sekaligus sebagai wujud syukur kepada para suci yang selama ini melindungi serta memberikan berkah kepada umat. ”Kami berharap dengan melalui peringatan ini umat semakin dikuatkan baik ekonomi maupun kesehatannya dan bangsa ini semakin makmur, Inti dari perayaan ini adalah untuk merenungkan sifat cinta kasih dan welas asih dari Kwam Se Im Po Sat yang senantiasa mendengar doa tulus umatnya,” jelas Indra.

Indra menambahkan, dengan terus belajar dari keteladanan Dewi Welas Asih ini diharapkan umat tidak terjerumus nafsu keduniawian yang sering membuat manusia menjadi egois. Di akhir acara, ditutup dengan Pradaksikna yaitu ritual berjalan mengelilingi altar sebanyak 3 kali sambil menghormat kepada Thian (Tuhan yang Maha Esa), para Buddha dan para Sien Bieng (Dewa-Dewi). (dit/zal/ce1)