TANPA PENGAWET: Hery Sugiartono menunjukkan contoh beras premium hasil produksi Kelompok Tani Sri Rahayu Desa Mlatiharjo Kecamatan Gajah, Kabupaten Demak. (AHMAD FAISHOL/JAWA POS RADAR SEMARANG)
TANPA PENGAWET: Hery Sugiartono menunjukkan contoh beras premium hasil produksi Kelompok Tani Sri Rahayu Desa Mlatiharjo Kecamatan Gajah, Kabupaten Demak. (AHMAD FAISHOL/JAWA POS RADAR SEMARANG)
TANPA PENGAWET: Hery Sugiartono menunjukkan contoh beras premium hasil produksi Kelompok Tani Sri Rahayu Desa Mlatiharjo Kecamatan Gajah, Kabupaten Demak. (AHMAD FAISHOL/JAWA POS RADAR SEMARANG)
TANPA PENGAWET: Hery Sugiartono menunjukkan contoh beras premium hasil produksi Kelompok Tani Sri Rahayu Desa Mlatiharjo Kecamatan Gajah, Kabupaten Demak. (AHMAD FAISHOL/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Anjloknya harga gabah di kalangan petani beberapa tahun terakhir khususnya di Kabupaten Demak, memantik Hery Sugiartono untuk mencari solusi. Antara lain dengan menciptakan beras premium khas Demak dengan nama Mlatiharjo. Seperti apa?

AHMAD FAISHOL

SEKILAS memang tidak ada hal yang luar biasa ketika kali pertama berkunjung ke rumah Hery Sugiartono, petani dari Kelompok Tani Sri Rahayu di Desa Mlatiharjo Kecamatan Gajah, Kabupten Demak. Rumah kayu yang teduh dikelilingi beraneka ragam pepohonan menyambut kedatangan Jawa Pos Radar Semarang di lokasi. ”Selamat datang di gubuk kami. Anggap saja seperti rumah sendiri,” katanya seraya mempersilakan duduk di ruang tamu yang telah disediakan.

Hery menceritakan, dirinya bersama dengan sejumlah petani Kelompok Tani Sri Rahayu di Kabupaten Demak saat ini tengah mengembangkan pembuatan varietas padi unggulan untuk meningkatkan kualitas beras yang diproduksi. Padi kualitas unggulan itu dinilai mampu menaikkan nilai tawar karena beras yang diproduksi dibeli dengan harga tinggi. ”Ada beras hitam, beras merah, dan beras Jepang. Karena premium, harga jualnya juga lebih tinggi dibandingkan dengan beras biasa,” katanya.

Dibeberkan dia, harga beras hitam yang mereka produksi mampu dijual seharga Rp 30 ribu per kilogram, beras merah Rp 20 ribu dan beras Jepang Rp 16 ribu. Menurutnya, beras yang diproduksi petani di kampungnya itu banyak dijual oleh perorangan dengan pemasaran online. ”Meski begitu, tak sedikit juga perusahaan yang ingin memasarkan produk kami dalam skala besar,” imbuhnya seraya mengaku dalam waktu dekat akan membuat sistem aplikasi berbasis Playstore.