Biasa Bantu BAB, Repot kalau Ada yang Bertengkar

Suka Duka Merawat Lansia di Panti Wreda Harapan Ibu Ngaliyan

233
MASA TUA: Para lansia penghuni ruang Anggrek di Panti Wreda Harapan Ibu. (Ana Khasanatun/ Jawa Pos Radar Semarang)
MASA TUA: Para lansia penghuni ruang Anggrek di Panti Wreda Harapan Ibu. (Ana Khasanatun/ Jawa Pos Radar Semarang)
MASA TUA: Para lansia penghuni ruang Anggrek di Panti Wreda Harapan Ibu. (Ana Khasanatun/ Jawa Pos Radar Semarang)
MASA TUA: Para lansia penghuni ruang Anggrek di Panti Wreda Harapan Ibu. (Ana Khasanatun/ Jawa Pos Radar Semarang)

Banyak orang tua ingin menikmati usia senjanya bersama keluarga dan orang-orang tersayang. Namun tidak semua bisa merasakannya. Tak sedikit yang menghabiskan usia senjanya jauh dari keluarga. Mereka harus hidup di Panti Wreda, salah satunya di Panti Wreda Harapan Ibu, Beringin, Ngaliyan, Semarang.

ANA KHASANATUN, Ngaliyan

SIANG itu, Panti Wreda Harapan Ibu tampak sepi. Hanya terlihat dua orang yang memasuki bangunan bercat kuning yang sudah mulai pudar itu. Panti Wreda yang diresmikan 21 tahun lalu itu dihuni oleh 38 orang lanjut usia yang semuanya wanita. Panti ini berada di bawah Yayasan Dharma Wanita Kota Semarang, yang dikelola oleh 4 pengurus dan 4 karyawan yang membantu mengurusi kebutuhan penghuni panti.

Di Panti Wreda ini terdapat fasilitas yang dimanfaatkan oleh penghuni panti, seperti televisi, kipas angin, tempat tidur, kamar mandi, dan sebagainya. Kebutuhan makan tiga kali sehari dan keperluan mandi pun juga telah disediakan oleh pengurus panti. ”Biaya kebutuhan penghuni di sini didapat dari bantuan atau donasi para donatur,” jelas Sri Redjeki, Wakil Ketua Panti Wreda Harapan Ibu kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Beragam latar belakang lansia penghuni panti tersebut. ”Ada yang memang tidak punya suami atau anak, ada pula yang tinggal di sini karena keluarganya berat hati merawatnya saat mereka tua. Namun kita mengutamakan lansia yang tidak mampu dan tidak memiliki keluarga untuk tinggal di sini,” kata Bu Sri – sapaan akrabnya.

Sri Redjeki sendiri telah mengabdikan dirinya di Panti Wreda Harapan Ibu sejak 1996 atau sudah 20 tahun. Perempuan berkerudung kelahiran Boyolali ini mengaku banyak tugas yang harus dilakukannya sebagai Wakil Ketua Panti. ”Kadang mewakili Ketua Panti untuk menghadiri undangan, mengurusi surat masuk atau keluar, saya juga menyeleksi calon penghuni untuk panti ini,” ungkap Sri.

Selama bekerja di panti itu, Sri bercerita banyak tentang pengalamannya menjadi pengurus sebuah panti wreda. ”Sukanya kalau mbah-mbah di sini sedang sehat, tidak ada yang sakit, rukun satu dengan yang lain. Repotnya ya kalau mbah lagi sakit atau bertengkar, mereka kalau bertengkar kadang suka sampai berteriak keras,” ceritanya.

Pegawai lain yang juga mengurusi para orang lansia di panti itu adalah Rini Febriar. Rini, sapaannya, telah lama bekerja di panti tersebut. ”Saya lupa sudah berapa tahun bekerja di sini, yang pasti sudah lama,” kata perempuan berambut pendek itu.

Rini yang kini berusia 40 tahun itu banyak membantu para lansia untuk mengurus kebutuhan sehari-harinya. ”Mandiin mbah, bantu Buang Air Besar (BAB), kadang ganti pampers-nya mbah juga,” tambah Rini.

Ia senang membantu para lansia di Panti Wreda, dan tidak memiliki niat untuk pindah ataupun berhenti dari pekerjaannya sekarang.

Salah seorang penghuni panti, Murni, mengaku senang tinggal di Panti Wreda tersebut. Ia telah 4 tahun menetap di Panti Wreda Harapan Ibu. ”Di sini banyak temannya, makan sudah diurus tiga kali sehari, gratis juga,” ungkapnya.

Di panti itu, Murni juga menjadi instruktur senam setiap Senin dan Jumat memimpin para lansia. Nenek yang berusia 81 tahun tersebut sebenarnya memiliki dua orang anak angkat, satu tinggal di Bogor, dan yang lain kini berada di Surabaya. ”Mending di sini, saya tidak mau merepotkan anak angkat atau saudara saya,” pungkas Murni, yang asli Magelang. (*/aro/ce1)