Beberapa wanita tukang pijat juga bukan warga setempat. Mereka berasal dari Kendal, Demak, Magelang dan daerah lainya. Mereka bekerja hingga pukul 17.00 untuk kemudian pulang ke rumah kos yang berada di tempat lain. ”Penghasilannya nggak tentu Mas, kadang ada tamu kadang tidak. Kalau dapat Rp 100 ribu, yang Rp 60 ribu buat bayar kamar ke bos. Kita dapatnya Rp 40 ribu. Kalau sepi ya nggak dapat sama sekali,” beber tukang pijat asal Demak yang keberatan ditulis namanya.

Ketua RW VI Kelurahan Peterongan, Joseph Sudirman, mengatakan, rata-rata bangunan yang ditempati warga RT 8 RW VI, khususnya yang di bantaran Sungai Banjir Kanal Timur tidak memiliki sertifikat. Namun, ia mengakui mereka adalah warganya. Sebab, rata-rata telah tercatat secara administratif, yakni memiliki Kartu Keluarga (KK) dan KTP, meski tinggal di rumah liar.

Sudirman mengatakan, hampir sebagian besar warga RT 8 RW VI tingkat perekonomiannya menengah ke bawah. Wilayah tersebut, diakui, menjadi catatan bagi semua pihak, karena termasuk daerah kurang layak untuk dijadikan hunian.

”Secara umum dari 9 RT di wilayah saya, RT 8 yang paling dominan warga miskinnya. Di sana sebetulnya tidak layak menjadi satu RT. Sesuai SK Pemerintah Kota Semarang, di sana itu idealnya dipecah menjadi 2-3 RT, karena di sana ada lebih dari 150 KK,” ujarnya.

Selain rata-rata tidak bersertifikat, kata dia, bangunan di wilayah tersebut juga tidak tertata dengan rapi. Banyak yang membuka usaha hingga memakan bahu jalan. Untuk permukiman di bagian dalam, tempatnya pun saling berhimpitan saking banyaknya warga. Keadaan ini juga menyulitkannya jika pihaknya hendak melakukan sensus atau pendataan lainnya.

Ia mengusulkan agar ada pembenahan dari pemerintah kota. Menurutnya akan lebih baik jika dibangun rumah susun, sehingga kehidupan warganya semakin tertata. Dengan adanya penataan, Jalan Pandean Lamper (Jalan Kanal) yang sebenarnya merupakan jalan alternatif untuk memecah arus lalu lintas Jalan Majapahit dapat kembali difungsikan. Selain itu, warga juga memiliki tempat tinggal yang lebih layak.